Penyerahan Penuh

Renungan Selasa 15 September 2020, Peringatan Wajib St. Perawan Maria Berduka

Bacaan: Ibr. 5: 7-9Mzm 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16, 20Yoh. 19:25-27 atau Luk. 2:33-35.

Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku. Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. (Mazmur 31:4-5)

Setiap hari manusia tak dapat menghindarkan diri atau lari dari masalah, penderitaan dan kesesakan. Itu adalah bagian dari kehidupan manusia. Hal-hal tak disangka, tak diduga, peristiwa atau kejadian yang tak pernah diharapkan bisa saja menimpa seperti bencana, kecelakaan, musibah, malapetaka dan bahkan kematian. Inilah realitas hidup manusia yang tak bisa disangkal. Sebagian besar orang tidak lagi bisa bersukacita, ketika sedang terhimpit beban atau masalah yang berat.  Mereka dikalahkan oleh keadaan atau situasi. Sebagai orang percaya seharusnya hal ini tidak boleh terjadi.

Sahabat, bacaan Mazmur hari ini menggambarkan tentang penyerahan hidup Daud kepada Tuhan, di mana ia yakin bahwa perlindungan yang aman hanya ia temukan di dalam Dia. Daud berkata, “Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku. Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku.” (Mazmur 31:4-5).  Sebagai raja atas Israel bukan berarti Daud bebas dari masalah, malah dia banyak mengalami kesesakan, penderitaan dan melewati masa-masa sukar yang disebabkan oleh musuh-musuhnya yang berusaha untuk menjatuhkan dia. Tetapi Orang yang berserah penuh kepada Tuhan pasti akan mengalami semua kebaikan Tuhan. (Mazmur 31:20).

Hari ini Gereja memperingati Maria yang Berdukacita. Ketika Simeon bernubuat tentang Yesus, ia mengatakan kepada Maria; “Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” Namun, Maria tak mengeluh. Ia tak mengelak dari rancangan Allah, selain penyerahan diri. “Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Di kaki salib, Maria menyaksikan kematian Putranya. Lagi-lagi, ia tak menyangkal atau mengutuki Tuhan. Maria mampu bersukacita dalam penderitaannya, sebab ia memiliki relasi pribadi dengan Tuhan. Maria tak meminta, “lepaskanlah aku dari penderitaan.”  Yang diucapkan dari mulut Maria hanya kata-kata magnificat, “jiwaku memuliakan Tuhan,”  Inilah yang disebut dengan tindakan iman, di mana kita mempercayakan hidup dan mempersilakan Tuhan berkarya dalam hidup kita.

Sahabat, ketaatan Kristus yaitu penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa-Nya. Yesus adalah pribadi yang memberikan teladan bagi kita, bagaimana Ia belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya (Ibrani 5:8). Dan tujuan Yesus memberikan ibu-Nya kepada kita adalah agar kita mengikuti dan meneladani Maria dalam penyerahan dirinya yang total kepada Allah; berjuang menaklukkan kehendak sendiri kepada kehendak Tuhan.

Karena setiap dari kita pasti memiliki salib; berupa masalah, penderitaan, sakit, kesulitan dan sering kali membuat kita tinggal dalam dukacita yang mendalam, sehingga kita mudah mengeluh, menyerah, bahkan kehilangan keyakinan akan kasih dan kebaikan Tuhan.

Sudahkah kita berserah penuh kepada Tuhan? Semoga dengan memiliki sikap berserah penuh seperti  Maria, baik dalam situasi pengalaman buruk atau bahkan dalam keadaan yang menyedihkan sekali pun, kita tetap dapat mengalami dan menyelami betapa Tuhan itu baik. Semoga Tuhan Yesus memberkati kita semua. (FHM)