Pengenalan Yang Benar

Renungan Rabu 16 September 2020

Bacaan: 1Kor. 12:31-13:13Mzm. 33:2-3,4-5,12,22Luk. 7:31-35

Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. (1 Korintus 13:11)

Saya teringat ketika pertama kali saya berusaha mengikuti Tuhan dengan sungguh, mencari-Nya dengan sungguh, saya seperti kanak-kanak yang selalu berteriak kepada Tuhan dan protes! Mengapa Tuhan? Kenapa begini Tuhan? Mengapa semakin berusaha dekat dengan Engkau, semakin berat tantangan-Nya Tuhan! Mengapa orang itu hidupnya tidak benar tapi mereka berlimpah Tuhan? Saya yang sudah berusaha hidup baik, bertobat dan berusaha berjalan di jalan-Mu belum mendapat berkat yang seperti itu? Yang menjadi fokus saya adalah saya dan saya sendiri.

Berjalannya waktu saya melihat penyertaan-Nya, perlindungan-Nya berkat-berkat-Nya dan pengajaran-Nya dalam tantangan-tantangan hidup yang boleh saya alami dan itu membawa saya kepada pengenalan yang benar akan Dia.

Membuat saya semakin meninggalkan cara-cara lama saya dalam berpikir, berdoa, dan lain-lain, meski semua yang saya mau, saya cita-citakan belum saya dapatkan. Saya tetap mendoakannya tetapi menyerahkan semua itu pada-Nya, pada keputusan-Nya dan pada kebijaksanaan-Nya.

Demikian juga dalam “beriman”, sering kita tidak dapat menerima terlebih menerapkan dalam hidup kita apa yang diajarkan dan dicontohkan-Nya pada kita. Tentang mengampuni karena kita sering merasa tidak bersalah, atau merasa gengsi. Tentang kelemahlembutan dan kerendahan hati yang Ia suruhkan kita belajar daripada-Nya. Tetapi ternyata kita sering tidak mau mendengarkan orang lain apalagi menerima kritik dari orang lain, kita langsung berbicara lebih banyak tidak mau kalah atau membalas kritikan tersebut, dan lain-lain.

Kita sering menyebut diri kita anak-anak Allah atau pengikut Kristus tetapi tidak bisa kita pungkiri kita sering hanya menjadi pendengar/pengikut dan bukan murid.

Firman hari ini semakin mengingatkan kita bagaimana harusnya kita menjadi murid-murid Tuhan. Bagaimana untuk mengasihi.

Kasih sangat membutuhkan apa yang disarankan Yesus sendiri: “Belajarlah daripada-Ku karena Aku ini lemah lembut dan rendah hati.”

Kita tahu lemah lembut bermakna hati yang mau dibentuk oleh Allah di mana mengubah diri adalah hal yang tidak gampang dan sering menyakitkan dan juga kerendahan hati membuat kita banyak berefleksi dan menahan diri untuk dapat menjalankan perintah-perintah Tuhan dalam hidup kita sehari-hari.

Doa:
Allah Bapa di Surga kami mohon agar rahmat-Mu membuka hati kami, melunakkannya dan menjadikannya baru. Utuslah Roh Kudus agar kami semua anak-anak-Mu benar-benar menjadi pelaku firman dan bukan pendengar saja. Semoga kami semua semakin dewasa dalam imam dan dalam pengenalan yang benar akan Engkau dan segera meninggalkan sifat kanak-kanak kami. Jadilah pada kami seturut kehendak-Mu. Amin. (VSH)