Orang Benar

Renungan Selasa 8 September 2020

Bacaan: Rm. 8:28-30; Mzm. 13:6ab,6cd; Mat. 1:1-16,18-23 (Mat. 1:18-23).

“Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:18-21)

Berbeda dengan Injil Lukas, di mana jemaatnya adalah kalangan non Yahudi yang tidak terlalu mempersoalkan asal usul keturunan Yesus. Di dalam Injil Matius, jemaatnya adalah kalangan orang-orang Yahudi, di mana mereka percaya bahwa Mesias itu akan lahir dari bangsa Daud. Oleh karenanya pembukaan Injil Matius, memperkenalkan Yesus sebagai “Mesias, Anak Daud, Anak Abraham. Jati diri Mesias dinyatakan melalui silsilah Abraham, leluhur Israel yang olehnya semua suku bangsa di bumi akan mendapat berkat.” ( Kej 12:2-3)

Dalam silsilah, Yesus diperkenalkan sebagai Mesias, anak Daud, anak Abraham, dan kalimat terakhir bukan “Yusuf memperanakkan Yesus” tetapi “Yusuf, suami Maria yang darinya dilahirkan Yesus”

Dalam narasi silsilah  Yesus yang ditulis Matius, sipenulis sangat jelas, ingin menekankan kepada para jemaatnya, bahwa: jangan ragu dan percayalah bahwa Yusuf, adalah anak keturunan Daud, dan Yusuf, suami Maria yang darinya dikandung dan dilahirkan dari Roh Kudus dan diberi nama Yesus adalah benar-benar Mesias yang mereka nanti-nantikan.

Ada satu artikel di koran, yang menuliskan, ada seorang pengacara sangat terkenal, selama sekian tahun berselingkuh dengan artis yang juga terkenal, istrinya mengetahui hal perselingkuhan tersebut, namun untuk menjaga martabat dan keutuhan rumah tangganya, sang istri tidak berontak ke sana kemari untuk mengumbar amarah, tidak mau mencemarkan nama baik suaminya, tetapi dengan sangat bijaksana sang istri menyimpan segala perkara di dalam hatinya, seperti Bunda Maria, dan akhirnya rumah tangga mereka tetap utuh.

Sama halnya dengan Yusuf, ketika dia mengetahui Maria mengandung dari Roh kudus, sebelum mereka menjadi suami istri yang sah, karena Yusuf seorang suami yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikan Maria dengan diam-diam. Namun rencana Yusuf tidak terwujud karena firman Tuhan yang mengingatkan Yusuf untuk tidak takut mengambil Maria sebagai istrinya, karena Anak yang dikandung oleh Maria berasal dari Roh Kudus, Anak yang akan menyelamatkan manusia dari dosa.

Dalam realita kehidupan sehari-hari kita tidak jarang mengalami hal-hal seperti itu, bahwa untuk percaya dan beriman kita harus minta bukti-bukti yang otentik kepada yang akan kita imani, atau kita berubah jadi ragu-ragu, khawatir manakala suatu peristiwa yang buruk akan terjadi yang berkaitan dengan iman percaya kita.

Kita harus berani meneladani Yusuf dan Maria, mengasah mata batin dan pikiran kita setiap saat, agar pikiran kita menjadi bersih dan batin menjadi bening. Dengan demikian kita bisa menangkap peringatan-peringatan dari Allah, melalui firman-firman-Nya yang kita tangkap melalui pikiran dan batin kita yang bening.

Ketaatan dan kesetiaan bukan tanpa resiko, tetapi bisa membawa resiko besar dan melahirkan pengorbanan dan penderitaan, namun bagi orang yang setia, taat seperti Yusuf dan Maria, mereka akan disebut sebagai orang benar dan mereka sungguh berkenan di hadapan Allah.

Beranikah kita meneladan Yusuf dan Maria dan menjadi orang benar?

Salam dan doa. (FXST)