Mengampuni Segenap Hati

Renungan Minggu 13 September 2020, Hari Minggu Biasa XXIV

Bacaan: Sir. 27:30-28:9 ; Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12Rm. 14:7-9Mat. 18:21-35.

Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu. (Matius 18:35)

Perikop hari ini berbicara bahwa pengampunan disamakan dengan penghapusan hutang. Mengampuni berarti membebaskan seseorang dari sebuah hutang. Sikap tidak mengampuni sama dengan ketika kita merasa ada orang yang masih berhutang sesuatu kepada kita. Sesuatu itu bisa jadi adalah  permintaan maaf, perubahan sikap, pembalasan dendam, ataupun pembayaran kerugian yang kita derita. Seperti ada tuntutan dalam hati kita bahwa ada orang-orang tertentu yang harus berlaku seperti yang kita inginkan, barulah kita merasa puas dan lega.

Dalam hidup sehari-sehari kita tidak terlepas dari kekecewaan, sakit hati, marah, mendapat perlakuan yang tidak adil atau dikhianati. Pengampunan bukan berarti kita harus sampai dapat melupakan sebuah peristiwa atau orang yang telah menyakiti atau mengecewakan tanpa kembali merasakan sakit dan kecewa, namun meskipun demikian kita tidak merasakan adanya tuntutan agar mereka berubah, meminta maaf, dan mereka juga tidak dianggap berhutang sesuatu kepada kita. Bahkan kita dapat bersyukur ataupun belajar sesuatu yang baik dari peristiwa yang telah terjadi, percayalah bahwa setiap peristiwa dalam hidup kita tidaklah kebetulan.

Anak saya mendapat pembimbing KOAS yang sangat menuntut hasil di luar akal sehat secara manusia, tetapi dia tidak pernah sakit hati atau marah tetapi dia terus berusaha mengikuti kemauan pembimbingnya, dan hari ini dia merasa sangat bersyukur karena pekerjaan-perkejaannya selalu mendapat pujian dari dokter-dokter lain.

Yang menjadi masalah, sering sikap mengampuni kita tidak dilakukan dengan segenap hati, melainkan keluar dari usaha pikiran dan hati kita untuk terbebas dari rasa sakit dengan cepat, yang biasanya kita lakukan adalah melupakan, mencoba menghilangkan ingatan akan peristiwa tadi, mengabaikan, menganggap ringan akibat atau dampak yang terjadi. Jadi yang penting adalah apakah kita memproses luka dan peristiwa itu dengan cara yang benar, maka kita akan mendapatkan hasil yang benar yaitu hati yang benar-benar mengampuni. Ketika kita melewati proses itu dengan tidak benar, maka pengampunan yang kita lakukan pun tidaklah mendalam.

Maka proses pengampunan yang benar adalah sebagai berikut:

  • Memiliki kehendak untuk mengampuni, karena pengampunan adalah pilihan, mau atau tidak mau. Jika kita mau, Tuhan yang akan memampukan.
  • Pengakuan: mengakui keberadaan luka dan dampaknya dalam hidup kita.
  • Pengampunan: memaafkan orang dan melepaskan perasaan bahwa ia berhutang sesuatu kepada kita.
  • Kerelaan: mengizinkan peristiwa yang tidak enak itu terjadi dan mengizinkan juga bahwa ada orang-orang yang berlaku tidak seperti yang kita harapkan
  • Kelepasan emosi negatif: melepaskan semua marah, kecewa dan sakit hati.
  • Pemulihan: memohon Tuhan menyembuhkan hati yang sakit.
  • Kedamaian: meminta Tuhan mencurahkan damai dan sejahtera bagi kita.
  • Konfirmasi: peneguhan kembali bahwa kita sudah mengampuni.

Bagaimana pun caranya, ketika kita berproses dengan cara yang benar akan mendatangkan damai dan berkat dalam hidup kita. Mari kita terus berdoa dan Allah pasti memampukan kita untuk mengampuni sesama kita dengan segenap hati.

Masihkah menyimpan kesalahan orang lain? Pertobatan kita tidak akan berbuah bila kita tidak mengampuni sesama dengan sungguh-sungguh.

Allah Bapa yang penuh belas kasihan, kami mohon rahmat-Mu untuk kami dapat mengampuni sesama kami dengan sungguh-sungguh seperti Engkau yang selalu mengampuni kami. Amin. (SWW)