Kerendahan Hati

Renungan Rabu 9 September 2020 Hari Biasa, Pekan Biasa XXIII

Bacaan: 1Kor. 7:25-31; Mzm. 45:11-12,14-15,16-17; Luk. 6:20-26.

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. (Lukas 6:22)

Renungan hari ini Yesus berbicara mengenai kebenaran firman Tuhan bukan buatan manusia. Tuhan menuntut manusia rendah hati dengan pemikiran manusia yang terbatas, indah sekali Tuhan membuat paradoks untuk membungkam mulut manusia yang sombong.

Mulai dari kebutuhan, harapan, keinginan, upaya dan dambaan kita manusia yang ingin menjadi kaya; dapat makan kenyang/tidak kelaparan dan dapat hidup senang dan berbahagia, serta diterima bahkan dihormati dan dihargai orang lain, dan terus mengejar prestasi atas kebutuhan akan aktualisasi diri (self-actualization needs), dapat membuktikan dan menunjukan dirinya kepada orang lain, maka seseorang berupaya mengembangkan semaksimal mungkin segala potensi yang dimilikinya. Tetapi semuanya itu sangat berbeda dengan apa yang diajarkan Yesus hari ini. Secara umum dan keilmuan, apa yang diinginkan dan terus dikejar dan diupayakan manusia itu wajar, karena setiap manusia hidup memiliki kebutuhan-kebutuhan dasar:

  1. Kebutuhan fisiologis (physiological needs)

Kebutuhan paling dasar pada setiap orang adalah kebutuhan fisiologis yakni kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, seperti makanan, minuman, tempat berteduh, tidur dan oksigen (sandang, pangan, papan).

  1. Kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang (social needs).

Kebutuhan akan cinta, kasih sayang rasa diterima, dibutuhkan oleh orang lain agar ia dianggap sebagai warga komunitas sosialnya bukan ditolak.

  1. Kebutuhan akan rasa aman (safety/security needs).

Kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman fisik, stabilitas, seperti takut, cemas, bahaya akan kemiskinan, kerusuhan dan bencana alam.

Injil hari ini: Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: Berbahagialah, hai kamu yang miskin, lapar, dan menangis, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah dan akan tertawa. Yesus juga mengatakan: karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat dan bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga.

Yesus mengajak kita berpandangan lain, tidak seperti pandangan manusia dunia.  Yesus mengatakan, “Berbahagialah…” ditujukan kepada mereka yang mengalami kesulitan dalam hidup berkaitan dengan iman mereka kepada Tuhan.  Mereka menjadi miskin, lapar, sedih, dibenci, dikucilkan, dicela, dan ditolak (Luk. 6:20-22). Itulah harga yang harus mereka bayar karena  komitmen mereka untuk mengikuti Yesus. Kepada orang-orang semacam inilah, Yesus menjanjikan Kerajaan Allah dan berkat-berkat-Nya, termasuk kecukupan makanan, sukacita, dan upah besar di surga.  Yesus sendiri memilih kemiskinan, kelaparan, kesedihan, dan penolakan supaya Ia menjadi Juru Selamat dunia dengan mati di kayu salib.

Maka kita yang mengikut Dia seharusnya mengikuti pula jalan-Nya. Hanya dengan iman dalam kuasa Roh Kudus, kita mampu mengamini dengan iman apa yang Yesus katakan, bukan dengan kepandaian pikiran manusia.

Yesus melanjutkan dengan kata-kata yang keras: Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, yang sekarang ini kenyang, tertawa, dan jika semua orang memuji kamu, karena kamu akan lapar, akan berdukacita, dan menangis. Dalam Lukas 6:26 Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.

Yesus menghendaki kita berhati-hati, ketika banyak orang memuji-muji kita. Mungkin kita bisa sudah jauh dari tujuan dan iman kita sebagi seorang pelayan/pengikut Kristus yang benar, sebab nabi palsu sering disukai oleh orang-orang yang tidak setia kepada Kristus. Sedangkan nabi-nabi dan pelayan-pelayan Injil yang melayani Allah dengan tulus, mengalami hal yang sama seperti yang terjadi pada diri Kristus, mereka ditolak/dikucilkan/dianiaya oleh mereka yang tidak percaya, tetapi  pelayan-pelayan Tuhan yang melayani Allah tetap terus dengan tekun, rendah hati mewartakan Kerajaaan Allah sesuai kehendak Bapa-Nya.

Bila tidak, betapa mudahnya kita akan masuk dalam: 

  1. Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs).

Manusia bebas untuk mengejar kebutuhan egonya atas keinginan untuk berprestasi dan memiliki prestise, kebutuhan akan status, ketenaran, kemuliaan, pengakuan, perhatian, reputasi, apresiasi, martabat, juga harga dirinya.

  1. Kebutuhan akan aktualisasi diri (Self-actualization Needs)

Membuktikan dan menunjukan dirinya kepada orang lain.

Segala kebutuhan dan keinginan manusia ini alami dalam setiap kita, sehingga perlu kita sadari untuk berjalan dalam kendali, dengan langkah kehidupan, terus maju dengan penuh iman, dan bersekutu dengan Allah Tri Tunggal Maha Kudus. Berserah total percaya Roh Allah-lah pengarah kita, yang akan menegur dan terus meluruskan kembali setiap langkah kita, mengarahkan proses kebenaran kehidupan pelayanan kita ini dengan kerendahan hati seperti para murid-murid Yesus: Santo Petrus, Santo Paulus dan lain-lain, serta para santo dan santa.

Kita telah diberikan segalanya oleh Bapa di surga terutama Yesus Anak-Nya yang tunggal, agar kita boleh makin mengerti kehendak-Nya dan dapat terus berkembang dalam Dia dan hanya untuk kemuliaan-Nya. Amin. (MTWN)