Standar Baru

Renungan Selasa 4 Agustus 2020

Bacaan: Yer. 30:1-2,12-15,18-22Mzm. 102:16-18,19-21,29,22-23Mat. 15:1-2,10-14

Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang. (Matius 15:11)

Shalom, Sahabat terkasih di dalam Kristus.

Semoga hari-hari ini kita semua tetap bersukacita dan selalu bersyukur. Bersukacita karena kita menyadari betapa penyertaan Tuhan yang sempurna melampaui akal budi kita, bersyukur karena sampai hari ini Tuhan masih izinkan kita berjuang di dalam kehidupan ini.

Tidak terasa, hidup di tengah pandemi ini sudah berjalan lebih dari empat bulan. Saya masih ingat betul, saat awal virus corona ini mulai menyerang Indonesia, semua orang panik, semua orang berusaha mencari jalan supaya dirinya selamat. Harga masker, hand sanitizer, kebutuhan pokok, semuanya melambung tidak terkira. Lalu disertai dengan pembatasan-pembatasan, kerja tidak lagi leluasa, tidak bisa ketemu dengan teman-teman, bahkan hidup rohani pun terkena imbas, tidak boleh misa secara tatap muka. Saya tidak bisa bayangkan pada waktu itu; misa daring (online), Sakramen Tobat daring, Tri Hari Suci juga daring, rasanya berat sekali. Namun hari ini, semua orang mengakui, bahwa kehidupan sudah berubah, cara hidup sudah berubah, tidak ada gunanya bersungut-sungut. Banyak orang yang kemudian sepakat, harus membiasakan diri dengan keadaan yang ada saat ini.

Saat saya merenungkan firman Tuhan hari ini, tentang adat istiadat orang Yahudi yang seolah-olah dilanggar oleh Tuhan Yesus (Matius 15:2). Bahkan Tuhan Yesus menjawab dengan tenang masalah najis dan tidak najis, ayat 11: “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Ada pesan yang sangat kuat dari Tuhan untuk kita semua, yaitu tentang perubahan standar hidup. Tuhan Yesus bukan mau melanggar hukum Taurat, tapi Dia ingin hukum Taurat dimaknai dengan standar yang baru yaitu adanya kasih. Orang-orang Yahudi menjalankan hukum Taurat sebagai hukum yang standarnya hanya pada fisik yang bisa dilihat, sedangkan Tuhan Yesus menjalankan hukum Taurat bukan hanya untuk dilihat orang lain, tetapi sebagai hukum yang mampu membuat hidup manusia menjadi lebih baik.

Sahabat terkasih, mari di saat- saat seperti ini,  saat banyak kegiatan dilakukan di rumah,  artinya banyak waktu bagi kita untuk bisa mengenali kehendak dan rencana Tuhan lebih baik lagi, kita gunakan waktu yang ada untuk lebih mengenal Tuhan Yesus. Jangan pernah sangsi akan kebaikan Tuhan. Mazmur 102, bercerita tentang doa minta tolong dan Tuhan berkenan memulihkan keadaan Sion. Ayo tetap semangat, mengeluh pada Tuhan boleh saja, tetapi tetaplah percaya bahwa Tuhan sanggup memulihkan keadaanmu.

Tetap aman, tetap sehat, tetap tinggal di dalam Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

BVJSW