Sangkal Diri Pikul Salib

Renungan Minggu 30 Agustus 2020 Hari Minggu Biasa XXII

Bacaan: Yer. 20:7-9; Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9; Rm. 12:1-2; Mat. 16:21-27.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (Matius 16:24)

Pernahkah dalam hidup Anda merasa begitu banyak masalah yang datang dan silih berganti? Satu masalah belum selesai datang masalah lainnya seakan tidak ada habisnya. Dalam keadaan tersebut ketika anda berdoa, Anda merasakan tidak ada jawaban kemudian Anda merasa semuanya sia-sia dan mulai putus harapan bahkan hampir menyerah.  Atau mungkinkah hal ini sedang Anda rasakan sekarang ini?

Saudara-saudari terkasih seperti ayat di atas yang berkata; ketika Anda mau mengikut Yesus harus menyangkal diri dan memikul salib. Berarti Yesus tidak menjanjikan bahwa semua masalah dalam hidup Anda akan selesai begitu saja ketika Anda mengikuti Dia, Yesus menyebutkan penderitaan bisa saja kita alami, namun satu hal yang boleh kita yakini bahwa apa yang terjadi saat ini adalah seturut dengan rancangan dan kehendak-Nya. Dan ketika Anda sebagai murid Kristus sudah mengimani hal tersebut maka dengan sendiri cara berpikir kita akan berubah bukan seperti apa yang manusia pikirkan melainkan seperti yang Allah pikirkan. Seperti yang dikatakan Yesus kepada Petrus, ketika Petrus berpikir bahwa Allah tidak akan membiarkan Yesus menderita dan disalibkan, karena Dia anak Allah. Cara berpikir Petrus saat itu adalah cara berpikir manusia yang cenderung tidak mau mengalami masalah dan menghindari penderitaan, padahal ketika Allah berkehendak maka Dia tahu mana yang terbaik untuk kita. Mungkin saat Anda berada dalam masalah yang berat, kemudian terpikir bahwa doa adalah sia-sia saja, karena Anda merasa Tuhan tidak mendengar dan menjawab doa Anda. Ingatlah bahwa Yesus berkata: enyahlah Iblis, pikiran seperti itu hanya batu sandungan saja, sangkal dirimu, pikul salib dan ikutlah Aku.

Saya ingin membagikan pengalaman iman saya tentang masalah keluarga yang saya alami, suatu masalah hukum dimana seseorang yang ingin mengambil hak atas rumah orang tua saya dengan cara yang tidak adil. Sudah lama kami mengalami hal ini dan sudah berbagai cara yang benar kami tempuh dan sampai saat ini belum ada jalan keluar yang baik. Teror dan ancaman terus keluarga kami alami sampai terkadang lelah rasanya, terpikir terus mengenai masalah tersebut. Kami terus berdoa terus-menerus selama mungkin lebih dari 15 tahun hal ini kami alami, selama itu saya merasa ada waktu-waktu di mana saya benar-benar putus asa tetapi Tuhan selalu mengingatkan saya untuk kembali berharap pada-Nya. Dan sampai saat ini walaupun belum ada jawaban, saya dapat melihat penyertaan dan pemeliharaan-Nya kepada kami selama mengalami masalah tersebut, melalui keluarga, teman-teman dan orang-orang yang Tuhan kirimkan untuk membantu kami.

Di bacaan pertama saya terkesan oleh satu ayat karena hal ini pernah saya alami ”Tetapi apabila aku berpikir: “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya”, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.

Saudara saudariku seberat apapun masalahmu ketika kita mau berharap kepada-Nya maka yakinlah bahwa Roh kudus akan selalu berikan kekuatan yang baru. Mari kita tetap bertekun dalam doa dan ingat untuk selalu mempersembahkan hidup yang kudus di hadapan Tuhan. Sesuai dengan bacaan kedua ”Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Marilah Kita Berdoa

Ya Allah yang mahabaik terima kasih atas firman-Mu hari ini, kami boleh semakin yakin dan percaya bahwa apapun yang kami alami saat ini, seberat apapun itu Engkau tidak pernah tinggalkan kami. Terima kasih karena sejauh apapun kami berlari, bahkan ketika kami putus harapan sekalipun  Engkau terus panggil kami untuk kembali lagi kepada-Mu. Dan ajarlah kami ya Tuhan untuk terus dapat mempersembahkan hidup kami yang kudus supaya kami layak dihadapan-Mu. Terima Kasih Tuhan.  Amin (MAR)