Merdeka!!

Renungan Senin, 17 Agustus 2020, Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia

Bacaan: Sir. 10:1-8Mzm. 101:1a,2ac, 3a,6-71Ptr. 2:13-17Mat. 22:15-21

“Hiduplah sebagai orang merdeka, bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” (1Pet 2:16)

Dirgahayu Indonesiaku. Hari ini kita merayakan hari kemerdekaan negara kita yang ke-75 meskipun karena dampak pandemi Covid 19, dilaksanakan dengan sederhana. Tidak ada euforia, tidak ada kemeriahan, tetapi gelora semangatnya tetap membara membakar jiwa.

Sifat dasar berupa kehendak bebas yang dimiliki manusialah yang mendorong bangsa Indonesia untuk memperjuangkan dan memperoleh kemerdekaan dengan dikumandangkannya proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi itu hanya pintu gerbang menuju kemerdekaan yang sesungguhnya. Yang lebih penting adalah bagaimana mengisi kemerdekaan itu sehingga cita-cita bangsa seperti tertulis dalam pembukaan UUD 1945 dapat terwujud. Masih perlu perjuangan terus menerus tiada henti, karena banyak pihak yang ingin merusak dan menggerogoti nilai-nilai kemerdekaan. Radikalisme yang berkedok agama, berita-berita hoaks, korupsi, kolusi dan nepotisme, ancaman disitegrasi, lunturnya patriotisme dan nasionalisme, dan banyak lagi. Marilah dengan cara masing-masing, kita isi kemerdekaan ini dengan kepedulian dan perbuatan kasih. Memperjuangkan kebenaran dan kedamaian dalam kebhinnekaan sehingga cita-cita luhur bangsa ini bisa tercapai.

Senada dengan itu, melalui baptis kita telah dimerdekakan oleh Kristus dari kebinasaan dosa menuju kemuliaan Bapa. Baptis hanya pintu gerbang, jika salah dalam mengisinya pastilah tetap kebinasaan yang akan kita terima bukannya kemuliaan. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang berakal budi, dan telah memberikan kepadanya martabat seorang pribadi, yang bertindak seturut kehendak sendiri dan menguasai segala perbuatannya (KGK 1730). Dengan kebebasan itu kita boleh menggunakan mulut kita untuk bicara baik atau kotor, memilih untuk mewartakan, atau diam. Kita boleh menggunakan waktu kita untuk bekerja atau bermalas-malasan. Kita bebas untuk setia atau selingkuh, dan seterusnya. Sabagai manusia berakal budi yang telah menerima karunia baptisan, maka justru karena kebebasan itulah kita hendaknya bisa bertumbuh dan berkembang dalam kebenaran dan kebaikan. Kebebasan akan menjadi sempurna jika kita persembahkan kepada Allah dengan perbuatan kasih dan pelayanan sehingga pada akhirnya akan berbuah kebahagiaan. Kita dipanggil untuk kemerdekaan, maka abdilah satu sama lain dalam cinta kasih (Mzm. 101). Marilah menjalani hidup sebagai orang merdeka, bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hidup sebagai hamba Allah (1Pet 2:16). Roh Kudus akan menerangi setiap langkah kita menuju kemerdekaan sejati, menuju kebahagiaan abadi.

Doa: Bapa yang Maha Kasih, puji dan syukur atas anugerah kemerdekaan bagi bangsa kami Indonesia. Mohon berkat-Mu untuk para pemimpin bangsa kami agar mampu membawa  kepada kehidupan yang damai, adil, makmur dan sejahtera. Mampukan kami untuk mengisi kemerdekaan ini dengan pelayanan dan cinta kasih, demi kemuliaan nama-Mu kini dan sepanjang masa. Amin. (MYM)