Masih Adakah Keadilan?

Renungan Rabu 19 Agustus 2020

Bacaan: Yeh. 34:1-11Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6Mat. 20:1-16a

Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? (Matius 20:13)

Keadilan dalam mitologi dilambangkan dengan beberapa gambaran. Menurut mitologi Yunani ada Dewi Themis, ia selalu membawa seperangkat timbangan yang digunakan untuk menimbang kebaikan dan keburukan seseorang sebelum memberikan masukan terakhir untuk ditentukan nasib jiwa seseorang oleh Hades masuk ke neraka atau surga. Ada juga yang sering kita lihat sehari-hari yang diambil dari mitologi Romawi, Dewi Justitia yang selalu membawa timbangan, pedang bermata dua dan dengan mata yang tertutup kain.

Sebagai seorang manusia, biasanya kita selalu berhitung tentang keadilan memakai timbangan. Orang itu baik menurut kita karena sering baik terhadap kita, orang itu jahat karena dia sering menyakiti kita. Banyak orang  selalu berharap bahwa Tuhan juga berlaku seperti kita manusia, pada saat pengadilan khusus nanti saat kita berpulang ke rumah Bapa kebaikan kita dan kesalahan kita ditimbang dan kita berharap kita bisa masuk surga karena kebaikan kita lebih banyak daripada kesalahan kita.

Tetapi kita sebagai umat pilihan Allah yang Maha Adil dan Maha Kasih, melihat contoh yang sangat berbeda dengan mitologi Yunani dan Romawi tersebut. Injil hari ini memperlihatkan orang yang bekerja dari pagi hingga pukul 5 sore, dari pukul 12 dan bahkan dari pukul 3 sore semua menerima upah yang sama satu dinar. Apakah itu adil?

Apabila saat ini kita  sebagai seorang atasan, pimpinan, atau pemilik perusahaan kita diingatkan dalam bacaan pertama Yehezkiel 34:3 “Kalian menikmati susunya, kalian memakai bulunya untuk membuat pakaian, kalian menyembelih yang gemuk-gemuk, tetapi domba domba ini sendiri tidak kalian gembalakan.”

Apakah kita boleh berlaku seperti itu? Memperlakukan seorang dengan semena-mena? Meminta orang bekerja keras untuk kita tanpa menghargai mereka? Ataukah sebaliknya bisakah kita menerima kalau kita melihat orang lain yang bekerja lebih singkat menerima upah yang sama dengan kita yang bekerja dari pagi?

Keadilan menurut Katekismus Gereja Katolik 1807 sebagai kebajikan moral adalah kehendak yang tetap dan teguh untuk memberi kepada Allah dan sesama, apa yang menjadi hak mereka. Keadilan terhadap Allah dinamakan orang “Kebajikan penghormatan kepada Allah”(Virtus Religionis). Keadilan terhadap manusia mengatur, supaya menghormati hak setiap orang dan membentuk dalam hubungan antar manusia, harmoni yang memajukan kejujuran terhadap pribadi-pribadi dan kesejahteraan bersama. Manusia yang adil yang sering dibicarakan Kitab Suci, menonjol karena kejujuran pikirannya dan ketepatan tingkah lakunya terhadap sesama. “Janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran. “Hai tuan tuan, berlakulah adil dan jujur kepada hambamu: ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di surga.” (Kol. 4:1).

Pada kondisi saat ini saya sedang berada dalam posisi yang sulit menghadapi ketidakpastian akibat pandemi COVID-19 ini. Perusahaan harus berjuang untuk mempertahankan operasionalnya, dikarenakan omset yang menurun, dan jumlah karyawan yang cukup besar. Saat ini kami dihadapkan kepada keharusan melakukan pengurangan karyawan. Krisis kali ini lebih berat dari apa yang pernah kami alami di tahun 1998 di mana di waktu itu pariwisata masih bisa  berjalan, perusahaan ekspor masih bisa meraih keuntungan. Oleh karena itu kami mau tidak mau saat ini harus melakukan perampingan karyawan.

Bacaan dari Kitab Yehezkiel ini sangat membebani pikiran saya secara pribadi apakah saya seperti seorang gembala yang tidak bertanggung jawab. Namun kegundahan saya terobati setelah mengetahui arti keadilan dari Katekismus, di mana kita diharapkan terhadap sesama selalu menghormati hak orang lain, kita juga harus berlaku jujur dan sesuai haknya, tidak hanya membela orang kecil atau juga takut terhadap orang yang berkuasa. Saya membayangkan ketika kapal di tengah badai dan akan tenggelam kita mau tidak mau harus mengurangi beban. Namun kita juga harus tetap memberikan apa yang menjadi hak dari karyawan, kita juga tidak boleh menggunakan kesempatan saat ini untuk memberhentikan orang secara semena-mena, karena banyak juga perusahaan yang memberikan pesangon tidak sesuai aturan bahkan tidak memberikan sepeser pun. Saya mengibaratkan hal ini seperti melempar orang ke laut tanpa menyediakan perahu atau bahkan jaket pelampung. Tetapi kita juga terhadap para pemegang saham harus berani memperjuangkan hak untuk para karyawan yang sesuai dengan peraturan dan kesepakatan. Yang terpenting adalah berjanji kepada karyawan yang kita berhentikan, akan menawarkan pada mereka yang pertama apabila kami membutuhkan karyawan lagi.

Janganlah kita menuntut keadilan menurut kita masing-masing. Dalam menjalani hidup ini kita memang harus berjuang, kita harus bekerja dengan tetap semangat, tetap berjalan dalam jalan Tuhan. Karena apa yang dijanjikan Tuhan upah satu dinar, bagi saya pribadi adalah keselamatan jiwa saya pribadi. Saya harus berjuang meskipun saya telah bekerja dari  pagi karena saya dibaptis dari bayi. Saya tidak mau disebabkan karena iri terhadap yang bekerja mulai pukul 3 sore, atau melihat yang semu di ladang tetangga yang seolah-olah menawarkan upah yang lebih baik. Sehingga menolak untuk menerima keadilan “Tuan kita yang di Surga,” dengan menolak upah saya 1 Dinar yang sudah disepakati dari pagi hari, ketika saya dipanggil untuk bekerja di kebun anggurnya. Saya tidak akan marah terhadap Tuhan dan tidak akan sesaat pun berpikir untuk meninggalkan Dia karena iri akan kasih-Nya terhadap umat manusia yang lain .

Doa:   Allahku yang kukasihi, hari ini engkau mengajarkan kepadaku bagaimana untuk bersikap adil terhadap sesama, terhadap diri-Mu dan menilai keadilan-Mu terhadap kami. Engkau telah berjanji memberi kami upah 1 Dinar  kepada orang yang mau bekerja di kebun anggur-Mu. Satu dinar bagiku adalah keselamatan jiwaku di kehidupan kekalku nanti. Utuslah Roh-Mu agar kami selalu mampu memelihara iman kami, selalu melakukan perbuatan yang sesuai dengan kehendak-Mu. Ajarlah kami agar selalu berjalan di jalan-Mu. Ingatkan kami bila kami mulai menjauh dari pada-Mu karena kondisi yang berat saat ini. Banyak cara yang menggoda kami untuk tidak setia kepada-Mu. Ingatkan kami agar selalu bersikap adil terhadap sesama dan berani menghadapi siapapun apabila kami di pihak yang membela hak orang lain. Upah yang Kau janjikan bagiku biarlah menjadi tujuan hidupku. Semua doa dan pengharapanku kupanjatkan dengan perantaraan Putra-Mu yang terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin. (AlX)