Berdoa Seperti Yesus Berdoa

Renungan Senin 10 Agustus 2020

Bacaan: 2Kor. 9:6-10; Mzm. 112:1-2,5-6,7-8,9; Yoh. 12:24-26;

“Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yohanes 12:24)

“Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa Dia berdoa? Di taman Getsmani dan di atas salib, Dia berdoa,” saya teringat dengan pertanyaan teman non-Kristiani pada masa masih sekolah di SMA Negeri. Waktu itu saya kurang enak badan dan jujur saya tidak tahu jawabannya, karena itu saya alihkan ke teman Protestan yang ada di dekat kami, karena saya pikir teman-teman Protestan lebih ahli dalam soal tanya jawab seputar itu, tapi kelihatannya dia bingung juga untuk menjawabnya.

Lalu tiba-tiba hati saya berkobar-kobar dan spontan menjawab: “Yesus itu Allah, tetapi juga manusia. Maka sebagai manusia, Dia juga berdoa kepada Allah Bapa di Surga!” Sesudah menjawab itu, saya baru menyadari, fisik yang terasa tidak enak dan lemas, tiba-tiba saya merasa sudah segar dan saya merasa sangat bersemangat dan berkobar-kobar. Waktu itu saya tidak mengerti apa yang saya alami, tetapi dalam refleksi selanjutnya saya menyadari bahwa pada saat itu dalam ketidaktahuan dan kelemahan fisik, kemudian dapat menjawab dengan berkobar-kobar dan menjadi sembuh dari kurang enak badan, sebenarnya itu adalah pekerjaan Roh Kudus.

“… janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus” (Mrk 13:11).

Tuhan Yesus, sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, 100% Allah dan 100% manusia. Sebagai manusia, putra Maria dan Yosef, Dia belajar dari orang tuanya bagaimana harus berdoa. Yesus lahir dan hidup dalam masyarakat Yahudi yang taat, maka Dia juga belajar berdoa di dalam Sinagoga di Nazaret dan di Bait Allah, seperti anak-anak Yahudi lainnya. Tetapi ada yang membedakan, ini terlihat ketika pada usia dua belas tahun, saat Yesus diketemukan di Bait Allah (Luk 2:41-52), Dia menjawab pertanyaan orang tua-Nya, yang kebingungan mencari-Nya:

“Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?” (Luk 2:49).

Jawaban ini menunjukkan bahwa doa Tuhan Yesus muncul dari sumber yang lebih tersembunyi, suatu bentuk doa yang baru yang lahir dari pergaulan mesra dengan Bapa-Nya yang di Surga. Doa seorang Anak kepada Bapa-Nya (bdk. KGK 2599). Dari sinilah kita semua yang dibaptis, kita berdoa bersama Yesus dan belajar berdoa dari-Nya.

Doa Kristiani bukan sekedar membaca atau menghafal teks-teks doa, -walaupun ada bentuk doa lisan-, tetapi doa Kristiani, seperti Tuhan Yesus berdoa pertama-tama merupakan pergaulan mesra antara Allah Bapa dengan Tuhan Yesus, maka doa harusnya menjadi pergaulan mesra semua anak-anak Allah dengan Allah Bapa di Surga.

Dari pengertian ini, melengkapi jawaban pertanyaan teman non-Kristen di atas : Tuhan Yesus sebagai putra manusia dan juga Putra Allah, Dia hidup selalu dan terus-menerus dalam pergaulan mesra dengan Allah Bapa-Nya di Surga, baik dalam keseharian maupun dalam doa-doa-Nya. Doa Tuhan Yesus adalah contoh sempurna dari setiap doa. Dalam Injil dapat kita lihat bahwa Tuhan Yesus seringkali berdoa di tempat sunyi dan tersembunyi:

“Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ”. (Mat 14:23)

“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Mrk 1:35)

Seperti Tuhan Yesus berdoa, kita perlu mempersembahkan waktu secara khusus untuk berdoa, untuk hidup dalam pergaulan mesra dengan Allah Tritunggal Mahakudus. Dan mengalir dari doa pribadi pada waktu yang khusus yang setiap hari kita persembahkan kepada Allah, kita juga dipanggil untuk terus-menerus menyadari kehadiran Allah dalam keseharian kita. Pada akhirnya belajar dari Tuhan Yesus sendiri, doa juga merupakan persetujuan penuh dalam iman dan kasih atas kehendak Allah, seperti yang dihayati Tuhan Yesus mulai dari taman Getsmani sampai pada salib (Bdk. KGK 2620).

“Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (Mrk 14:36)

Tuhan Yesus berdoa di taman Getsmani sampai pada Salib, di tengah kedahsyatan “cawan” yang harus Dia pikul, tanpa perasaan yang indah-indah, tetapi di tengah segala ketakutan yang dahsyat. Demikian juga dalam hidup doa, tidak tergantung pada perasaan yang indah, mengharukan dan menyenangkan. Dalam hidup doa, kita bisa mengalami proses pemurnian, seperti yang dinyatakan dalam Injil hari ini:

“Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24)

Berikut yang diajarkan Gereja mengenai pemurnian dalam doa dalam Katekismus Gereja Katolik 2731:

Satu kesulitan lain, terutama untuk mereka yang hendak berdoa dengan khusyuk, ialah KEKERINGAN. Yang ini termasuk dalam doa batin, kalau hati kita seakan-akan terpisah dari Allah dan tanpa kerinduan akan pikiran, kenangan dan perasaan rohani. Inilah saat-saat iman murni, yang tabah setia bersama Yesus dalam sakratul maut dan dalam makam.

Kalau biji gandum itu “mati”, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24).

Kalau kekeringan itu disebabkan oleh ketiadaan akar, karena sabda jatuh ke atas batu wadas (bdk. Luk 8:6.13), itu berarti bahwa harus ada perjuangan demi pertobatan. Memang harus dibedakan antara kekeringan dan kesuaman. Kekeringan merupakan tanda perkembangan hidup rohani, sebaliknya kesuaman merupakan tanda kemunduran. Kekeringan mengajak kita terus bertekun dalam kontemplasi, untuk sungguh semakin mengenal Allah dalam iman dan kasih. Sebaliknya kesuaman, mengajak kita untuk sungguh-sungguh bertobat.

Kekeringan dan kesuaman, memiliki gejala yang mirip, tapi sebenarnya sangat berbeda. Kita dapat belajar dari St. Yohanes Salib bagaimana membedakan kekeringan dan kesuaman, bagaimana jiwa dibawa masuk ke dalam kontemplasi.

Seperti “biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, kemudian menghasilkan menghasilkan banyak buah”, kita juga dipanggil untuk semakin mati bagi diri kita sendiri dan hidup hanya bagi Allah (ET).