Tanah Yang Subur

Renungan Jumat 24 Juli 2020

Bacaan: Yer. 3:14-17; MT Yer. 31:10,11-12ab,13Mat. 13:18-23

Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. (Matius 13:23)

Seringkali saya memberitahu bahkan sampai menegur, karyawan yang tidak melakukan pekerjaannya sebaik yang dia sebenarnya mampu lakukan. Setiap hari ada saja kesalahan yang dia lakukan, yang adalah kesalahan yang selalu sama, yang saya anggap dia sudah tahu. Tetapi karena dia membutuhkan pekerjaan untuk kehidupan keluarganya, saya masih memberi kesempatan dan berusaha untuk mengingatkannya kembali setiap kali dia masih melakukan kesalahan yang sama.

Hari-hari berikutnya dia mulai berusaha lebih giat lagi, untuk mendapat kesempatan melakukan pekerjaannya dengan lebih baik, karena sejak saya tegur berkali-kali dan dia tetap belum berubah, saya mengerjakan sendiri pekerjaan itu. Kali ini sudah ada kemajuan, lebih teliti meskipun belum rapi semua jenis pekerjaannya. Saya berniat terus memberi kesempatan kepadanya untuk mengubah caranya bekerja sampai dia mampu melakukan yang terbaik. Kepercayaan kembali saya berikan kepadanya, semua pekerjaan saya serahkan kembali kepadanya. Dia tampak senang. Sayangnya hal itu tidak berjalan lama, kebiasaan yang sudah menjadi karakter caranya bekerja sembarangan, tidak rapi, tidak bersih, asal-asalan dan buru-buru karena merasa tidak terlalu dipantau terulang kembali. Lebih parah lagi dia ketahuan tidak jujur ketika ada beberapa pekerjaannya yang menyangkut properti, yang menjadi tanggung jawabnya, hilang, tidak dapat dipertanggungjawabkannya. Himpitan akan kebutuhan hidup telah menjerumuskannya pula, yang pada akhirnya dia harus kehilangan pekerjaannya sebagai konsekuensi dari kesalahan fatal yang diperbuatnya.

Seandainya saja dia yang sudah mendengar bagaimana saya mengarahkan caranya melakukan pekerjaannya dengan baik, sebaik yang dia mampu lakukan. Seandainya saja dia mau terus bertahan dengan perbaikan yang sudah dia lakukan sebagai kemajuan yang sudah dia perjuangkan, mungkin baginya sangat tidak mudah. Seandainya saja dia dapat memisahkan persoalan rumah tangganya yang menurutnya kekurangan itu, dengan semua tanggung jawab pekerjaan yang sudah dipercayakan kembali kepadanya, keputusan fatal yang harus dia terima sebagai konsekuensi dari kesalahannya sendiri itu, tidak akan terjadi.

Hari ini ketika saya membaca dan merenungkan sabda Tuhan dari Matius 13:18-23, saya kembali teringat peristiwa tentang karyawan saya ini, sebagai suatu inspirasi tentang perkembangan iman saya.
Dulu sebelum saya mengenal Yesus secara pribadi, walaupun saya sudah mendengar firman Tuhan, saya melakukan perintah Tuhan karena rutinitas atau hanya ritual tanpa penghayatan, tanpa kesadaran penuh mengapa saya harus melakukannya. Hidup kerohanian saya masih sekedar mendengar firman Tuhan, melakukan kegiatan kerohanian tanpa penghayatan.

Suatu saat karena saya tergerak oleh dorongan dari kakak saya untuk rajin mengikuti persekutuan doa yang sebelumnya saya agak “antipati” karena saya belum terbiasa dengan suasana doa seperti itu, saya mulai lebih mengenal Yesus. Saya mulai menyukai dan rajin mengikuti persekutuan doa. Kerohanian saya makin tumbuh tetapi masih sebatas menyukai. Selain belum terlalu akrab dengan Yesus, saya juga belum terjun ke pelayanan. Doa lingkungan, Pendalaman Iman, aktif tetapi masih karena keharusan sebagai warga Gereja.

Sampai suatu saat saya diminta oleh Ketua Wilayah untuk membantu bekerja.  Saya mulai sadar
perlunya melayani umat sebagai alat dari Tuhan, saya menyukai pekerjaan sebagai Wakil Ketua
Wilayah, sekaligus ditunjuk menjadi Pengurus Wanita Katolik di Paroki. Saya semakin bertumbuh
secara rohani dengan mulai terjun di pelayanan. Tetapi kemanusiaan saya tidak tahan uji, ketika
terjadi selisih paham dengan salah seorang pengurus, saya memilih untuk menanggalkan jabatan
saya sebagai Wakil Ketua Wilayah daripada melayani dengan hati yang tidak damai.

Seperti kisah karyawan saya, perjalanan iman saya sampai pada tahap ketiga. Tahap pertama seperti
benih yang ditabur di tanah yang kurang baik, hanya mendengar saja kegiatan rohani hanya sebatas
ritual yang harus dilakukan. Tahap kedua mendengar firman Tuhan sudah mulai mengenal Yesus
lebih dalam lagi, sudah mulai melayani tetapi sifat manusia yang egosentris mengorbankan
kepentingan pelayanan umat. Saya mendengar firman Tuhan melakukan tetapi tidak menghayati.

Pada akhirnya saya ingin terus bersyukur kepada Tuhan, karena Tuhan Yesus tidak pernah
melepaskan saya. Melalui pergumulan hidup, relasi saya bersama Yesus semakin akrab, Dia benar-benar
hanya sejauh doa bagi saya. Meskipun saya tidak secara khusus melayani dalam suatu
organisasi tetapi selalu saja ada kesempatan bagi saya untuk melayani Tuhan. Berbagi perhatian dan
kasih Tuhan kepada sesama. Saya terus berusaha supaya hati saya menjadi tanah yang subur bagi
firman Tuhan, sampai terus berbuah; tidak lagi sekedar mendengar firman Tuhan, tetapi
melakukannya menjadi saksi hidup bagi kehadiran Tuhan, melakukan dan menghayati tugas
pelayanan dengan taat, demi kemuliaan nama Tuhan. Amin. (ANS)