Menjadi Arus Rahmat

Renungan Rabu 15 Juli 2020

Bacaan: Yes. 10:5-7,13-16; Mzm. 94:5-6,7-8,9-10,14-15; Mat. 11:25-27;

Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. (Matius 11: 25)

Melalui bacaan Injil hari ini, saya diajak-Nya menjadi orang-orang kecil, orang-orang biasa yang penuh kerendahan hati agar saya mampu menerima ajaran, kemauan dan perintah-Nya untuk saya jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Saya juga diingatkan untuk tidak menuntut Tuhan melakukan perbuatan-Nya sesuai dengan pikiran, kemauan dan keinginan diri saya karena akal budi saya tidak dapat sepenuhnya memahami kehendak-Nya, tetapi mengandalkan diri-Nya dan menyediakan hati yang berserah penuh hanya kepada-Nya.

Sungguh saya bersyukur dengan ajakan Tuhan Yesus hari ini karena hanya dengan menjadi orang-orang kecil maka saya dimampukan untuk menjadi alat-Nya, menjadi arus rahmat-Nya yang tidak boleh pernah berhenti membagikan Kabar Baik kepada banyak orang di sekitar kehidupan saya.

Tahun lalu, Tuhan menanamkan dua pesan di hati saya. Yang pertama “tidak boleh pernah berhenti membagikan Kabar Baik” dan yang kedua “menjadi arus rahmat”. Pesan Tuhan yang kedua ini disampaikan-Nya melalui perkataan rekan pengajar senior di SEP.

Pesan yang pertama saya sampaikan ketika saya berkesempatan untuk mengucapkan syukur setelah acara Misa Syukur HUT SEP 25 tahun pada bulan Januari 2019. Dan kedua pesan itu saya tuliskan ke dalam kata sambutan saya di buku kenangan “Merayakan SEP 25 Tahun” dan juga saya jadikan dasar untuk Program Kerja SEP tahun 2020 – 2023: SEP MENJADI ARUS RAHMAT, di mana kita semua dapat menjadi arus rahmat itu bila kita semua terbuka akan bimbingan Allah Roh Kudus, yang akan senantiasa memperkuat jaringan yang dimiliki SEP (dengan secara tulus saling melayani, mempersatukan, berbagi), untuk terus menerus melakukan perawatan terhadap jaringan yang ada (dengan melakukan pendampingan, perbaikan, peremajaan: kaderisasi & estafet kepemimpinan) dan memperluas jangkauan (kepada new world, new target, dengan memakai new formula, new approach).

Tahun lalu, kedua pesan ini, saya anggap hal yang biasa. Mengapa? Karena hal itulah yang harus saya (dan juga para sahabat semua) lakukan sebagai seorang pengajar dan pewarta Kabar Baik. Juga hal itulah yang perlu dilakukan oleh siswa atau alumni SEP atau KEP. Bahkan saya pikir “memperluas jangkauan” hanya untuk menjangkau Orang Muda Katolik dan pengembangan KEP Paroki di pantura.

Namun ternyata bukan hanya itu. Akal budi saya tidak dapat menjangkau hikmat Tuhan. Pada tahun ini di tengah pandemi Covid-19 ini, kedua pesan itu bergema dengan sangat kuat. Saya dan kita semua diminta-Nya untuk tidak boleh pernah berhenti membagikan Kabar Baik dan menjadi arus rahmat-Nya. Saya dan  para sahabat yang mencintai SEP dan KEP  tidak boleh berhenti menunggu. SEP/KEP harus bergerak. Para Pengurus SEP/KEP dan para pengajarnya tidak boleh loyo. SEP/KEP harus selalu menjadi orang-orang kecil yang selalu mohon bimbingan-Nya agar dapat terus menyapa, menyemangati, mencari, menemukan dan memakai cara-cara baru (new formula), pendekatan-pendekatan baru (new approach) untuk menyampaikan pengajaran, terutama di saat-saat seperti ini.

Doa: Terima kasih Tuhan Yesus. Pagi hari ini, terasa sekali Engkau mendorong hatiku untuk tidak hanya menunggu, tetapi terus bergerak untuk tidak boleh berhenti membagikan Kabar Baik-Mu dan menjadi arus rahmat-Mu. Kuasai hati dan akal budi saya dan para sahabat Pengurus SEP KEP untuk dapat menjadi orang-orang kecil yang peka akan kehendak-Mu. Bimbinglah kami untuk dapat terus mengandalkan Engkau agar mempunyai hati yang berserah penuh kepada-Mu sehingga kami dapat terus bergerak, untuk terus menyapa, menyemangati, mencari, menemukan dan memakai cara-cara baru (new formula), pendekatan-pendekatan baru (new approach) dalam membagikan Kabar Baik kepada banyak orang. Amin. (SET)