Kuat Kuasa Belas Kasih Allah

Renungan Selasa 7 Juli 2020.

Bacaan: Hos. 8:4-7,11-13Mzm. 115:3-4,5-6,7ab-8,9-10Mat. 9:32-38

Melihat orang banyak itu tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Matius 9:36)

Seorang pria terbelenggu oleh minuman keras. Selain banyak orang memusuhi, banyak juga yang merasa kasihan melihat hidupnya yang tidak bahagia. Di antara semua itu, ada seorang bapak dan keluarganya yang mengambil tindakan untuk mendampingi dan menjadi teman bagi pria tersebut. Dalam proses pendampingan yang tidak mudah, akhirnya pria itu bebas dari belenggu minuman keras, setelah menyerahkan diri kepada Tuhan Yesus yang dia kenal melalui keluarga yang mendampinginya.

Keputusan melakukan pendampingan digerakkan oleh rasa belas kasihan yang diikuti dengan tindakan. Hasilnya adalah keselamatan.

Mengapa Yesus membebaskan orang bisu dari genggaman setan? Mengapa Yesus melepaskan banyak orang dari penyakit dan kelemahan? Mengapa Yesus berkeliling daerah sambil mengajar dan memberitakan Injil?

Untuk membuktikan pewartaan tentang Kerajaan Allah saja? Ternyata banyak orang yang malah meragukan kuasa yang menyebabkan terjadinya semua mukjizat itu dan bahkan memusuhi Dia.

Namun Yesus tidak peduli terhadap semua hambatan itu. Bahkan hambatan dalam bentuk yang mengancam keselamatan-Nya, nama baik-Nya, hidup pribadi-Nya.

Lalu apa yang menggerakkan Yesus?

Kasih Allah Bapa yang menyemburkan rasa belas kasihan terhadap penderitaan umat manusia, menghasilkan buah berkat itu.

Ada banyak kesempatan untuk berjumpa dengan sesama yang sedang berposisi sebagai “domba tanpa gembala”. Adakah rasa belas kasihan timbul di hati? Pasti ada. Cukupkah hanya sampai di situ?

Inginkah melakukan tindakan nyata? Pasti ada. Adakah sesuatu yang muncul sehingga tertundalah atau musnahlah keinginan bertindak?

Apakah sesuatu itu?

Dalam situasi saat ini, mobilitas orang yang berusia rentan sangat terbatas. Padahal ada orang-orang yang membutuhkan. Apa yang dapat dilakukan?

Saya percaya (berdasarkan pengalaman), bahwa Roh Kudus akan mengajari dan menuntun caranya, bila mau bertanya kepada-Nya.

Saya tidak mau kehilangan kesempatan untuk bertindak sekalipun sederhana, karena Tuhan hadir dalam setiap kesempatan itu.

Belas kasih Allah yang menggerakkan tindakan nyata, adalah jawaban atas kebutuhan di masa ini.

Doa : Tuhanku ya Allahku, aku tidak mau menjadi orang yang cuma mengucap “kasihan dia”, tanpa tindakan. Ajarilah aku caranya, sehingga kuat kuasa belas kasih-Mu dialami sesamaku. Amin.

-ips-