Kerajaan Sorga

Renungan Minggu 26 Juli 2020

Bacaan: 1Raj. 3:5,7-12Mzm. 119:57,72,76-77,127-128,129-130Rm. 8:28-30Mat. 13:44-52 atau Mat. 13:44-46

Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu. (Matius 13:46)

Melalui bacaan injil hari ini Yesus mengajar kita tentang kerajaan Allah melalui tiga perumpamaan.

Pertama, Yesus mengumpamakan Kerajaan Sorga sebagai harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang lalu dipendam lagi karena sukacitanya, pergilah ia menjual seluruh miliknya ,lalu membeli ladang itu.

Melalui perumpamaan ini Yesus menunjukkan kepada kita apa yang seharusnya menjadi prioritas hidup kita. Harta karun yang ditemukan itu sangat berharga dan untuk memperolehnya kita harus menjual harta yang selama ini menjadi milik kita. Kegembiraan menemukan harta dalam ladang, membuat orang yang menemukannya lupa akan segala sesuatu yang lain.

Kedua, Yesus mengumpamakan Kerajaan Sorga sebagai seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun menjual seluruh miliknya, lalu membeli mutiara itu. Perumpamaan ini juga menggambarkan betapa sangat bernilainya Kerajaan Sorga itu dan  ada harga yang harus dibayar untuk memperolehnya.

Bagi orang yang berorientasi pada hidup duniawi, nilai tertinggi barangkali harta, kedudukan dan kenikmatan hidup terletak di atas segalanya. Namun bagi orang beriman, nilai tertinggi itu adalah Kerajaan Sorga. Orang beriman tetap harus bekerja dan berusaha untuk untuk meningkatkan taraf hidup, tetapi semua perjuangan itu, hendaknya diarahkan pada tujuan menghantar dirinya pada persekutuan dengan Bapa di sorga.

Ketiga, Yesus mengumpamakan Kerajaan Sorga seumpama pukat yang dilabuhkan di laut. Pukat itu akan mengumpulkan segala jenis ikan tanpa kecuali, demikian juga Kerajaan sorga selalu terbuka bagi semua orang. Namun tidak semua orang setia pada Kerajaan sorga, ada yang memilih untuk meninggalkannya. Bagi yang meninggalkan Kerajaan Sorga, mereka laksana ikan yang dicampakkan ke dalam dapur api.

Hidup menggereja adalah ziarah bersama semua orang yang terjaring pukat. Ada yang setia dan tidak setia. Sebagai sesama umat beriman kita berkewajiban untuk mendorong yang kurang setia, agar lebih setia. Sebaliknya, mari kita juga terbuka bagi dorongan orang lain kalau kita mulai tidak setia pada salib Tuhan Yesus.

Marilah kita juga selalu meminta hikmat dari Tuhan seperti Salomo pada bacaan pertama, agar kita selalu berjalan menurut tuntunan Sang Gembala sejati, dan kita tetap mengasihi Tuhan di atas segala sesuatu. Karena Allah berjanji akan ikut bekerja mendatangkan kebaikan pada setiap orang yang mengasihi-Nya (Rm. 8:28).

Doa: Allah Bapa yang baik, kami bersyukur memiliki Bapa yang sangat mengasihi yang selalu menyertai kami dengan Roh Kudus, Roh Penolong dan Roh yang selalu mengingatkan kami bila kami jatuh dalam dosa. Tolonglah kami ya Allah Roh Kudus agar kami selalu mengarahkan hati ke sorga walaupun banyak godaan dunia yang membuat kami berpaling dari kasih Allah. Amin. (MLEN)