Jiwaku Merindukan Engkau

JIWAKU MERINDUKAN ENGKAU (Mazmur 42:1-12)

(Bp. Setiadi Santoso)

Di tengah situasi pandemi COVID-19, kita cukup lama tidak bisa melakukan kegiatan bersama-sama di ruang terbuka, mengikuti perayan Ekaristi seperti dulu, kerinduan yang kuat untuk bisa beraktivitas normal. Juga kerinduan yang kuat untuk pelajaran di SEP atau KEP, berkumpul di SEP atau KEP, rindu kebersamaan, rindu terhadap pengajar, rindu “bertengkar” seperti Tom and Jerry.

Kerinduan yang kuat seperti yang kita alami sekarang, juga dialami oleh penulis Mazmur 42.

Mazmur 42 dan 43 ini sebenarnya hanya satu lagu. Mazmur ini tampaknya tidak ditulis oleh Daud. Mazmur ini sebenarnya ratapan oleh pemuji bani Korah – suatu keluarga dari suku Lewi yang pandai menyanyi  Mazmur yang berada dalam pembuangan.

Seluruh umat Israel diusir dan dibuang dari tanah airnya merasa jauh dari kehadiran Allah dalam bait-Nya. Pemazmur (umat) tinggal di pembuangan dan mengungkapkan kerinduan umat Israel akan hadirat Allah dalam hidup mereka, juga kerinduannya kepada bait Allah. Ia mohon supaya diperbolehkan pulang untuk turut serta dalam ibadat di bait Allah.

Hal yang sama terjadi di dalam diri kita sekarang ini.

Mengapa umat Israel dan ataupun kita merindukan Tuhan ?

Karena kita  mengalami bahwa

  • Dia berarti untuk kehidupan kita (Mzm 42: 2-3)
  • 42:2 Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
  • 42:3 Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah.
  • Mensyukuri segala kebaikannya, percaya bahwa Dia mengasihi kita dan berharap penuh kepada-Nya (Mzm 42: 6, 12)
  • 42:6, 12 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku

Apa yang kita lakukan kalau kita rindu ? Bagaimana mengobati kerinduan kita ?

Kerinduan kita akan Tuhan selalu menggerakan kita.

Bergerak – tidak diam – tetapi mencari cara – mencari terobosan untuk bertemu / berjumpa seperti Zakeus (Luk. 19:1-10) dan wanita yang sakit pendarahan ( Injil Mat. 9:18).

Sesudah ketemu biasanya ada rasa bahagia, gembira penuh sukacita dan kita mau diam mendengarkan diri-Nya berbicara.

Kerinduan adalah rahmat bagi kita. Tuhan lebih dahulu merindukan kita.

Kita dapat terus merindukan Allah kalau kita menyadari bahwa hidup dan keberadaan diri kita sekarang ini adalah hadiah yang sangat berharga yang kita terima dengan pribadi, yang diberikan secara pribadi dari seorang pribadi yang luar biasa.

Kerinduan kita akan Tuhan adalah rahmat Tuhan, anugerah Tuhan. Iman kita akan Tuhan inilah yang senantiasa mengobarkan kerinduan dalam hati kita untuk datang, mendekat menghampiri Tuhan.

Dan di balik itu semua, ternyata Tuhan jauh lebih dahulu merindukan kita untuk datang kepada-Nya. Pribadi itulah yang selalu merindukan kita, Ia ingin menyapa kita setiap saat dalam keadaan apapun juga, walaupun kita kerap kali mengabaikannya dan hanya mendekat kepada-Nya pada saat kita membutuhkan.

Memang, seringkali kita pergi kepada-Nya (mencari Tuhan) hanya pada saat dibutuhkan, untuk meminta bantuan. Tetapi Tuhan melihat lebih jauh dan mengundang kita untuk melangkah lebih jauh, bukan hanya mencari karunia-Nya, tetapi untuk mencari Dia, Tuhan dari semua karunia; agar kita dapat mempercayakan kepada-Nya bukan hanya masalah kita, tetapi juga untuk mempercayakan hidup kita kepada-Nya. Dengan cara ini Dia akhirnya bisa memberi kita rahmat terbesar, yaitu memberi kehidupan (kepada kita).

(Disampaikan oleh Paus Fransiskus pada saat doa Angelus (Senin 29/06/20) bertepatan dengan Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, di mana ia mengundang orang-orang Kristen untuk menjadikan hidup mereka sebagai hadiah dan untuk mengenali Yesus sebagai Allah yang hidup.)

Bila kerinduan kita terjawab, kita bertemu dengan yang kita rindukan, pasti kita akan penuh SUKACITA dan BERBAHAGIA.

Pertanyaan untuk kita renungkan;

APAKAH KITA SELALU MERINDUKAN PRIBADI ITU?

APAKAH KITA SELALU RINDU BERJUMPA DENGAN TUHAN YESUS, ALLAH KITA YANG HIDUP DAN INGIN SELALU DEKAT KEPADA-NYA?

SEBERAPA BESAR KERINDUAN KITA KEPADA-NYA?

Episode 21.3: The Manner of Prayer – The Jerusalem Chamber