GANDUM atau ILALANG kah aku? 

Renungan Selasa 28 Juli 2020 Hari Biasa Pekan Biasa XVII
 

“Pada waktu itulah orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan!” (Matius 13:43).

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus mengajarkan kepada saya tentang perumpamaan benih yang baik dan ilalang yang tumbuh bersama. Yesus menggunakan contoh benih yang baik dan ilalang sebagai  perumpamaan tentang anak-anak Kerajaan Allah dan anak-anak si Jahat. Yesus menaburkan benih yang baik, si jahat menaburkan benih ilalang dan ladang adalah dunia. Pemilik ladang adalah Tuhan. Meskipun benih yang baik dan ilalang berbeda nilainya, tetapi Tuhan membiarkan keduanya hidup bersama. Tidak dipisahkan benih yang baik dan ilalang yang menghimpit. Ketika waktunya panen, barulah pemisahan terjadi.

Jika kita sebagai pekerja ladang, maka saran kita adalah mencabut ilalang yang tumbuh bersama dengan gandum yang baik, tetapi tidak dengan Tuhan, Ia membiarkannya hidup bersama. Inilah yang terjadi dalam kehidupan manusia. Orang yang baik dan jahat hidup berdampingan bersama-sama.

Dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan, kadang terdapat fakta yang menarik yaitu ketika orang-orang jahat berada dalam satu wadah atau komunitas kita, mungkin dalam keluarga, teman, sahabat ataupun rekan kerja bahkan rekan sepelayanan kita. Komunitas pelayanan pun tidak bebas dari para pelaku kejahatan, karena itulah tidak heran bila Yesus pada akhir zaman tidak mengenali mereka;

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga. Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaku, kamu sekalian pembuat kejahatan” (Matius 7:22-23)

Mungkin sepertinya mereka adalah ilalang yang tumbuh subur dan sehat. Mereka dibalut baju agamawi, tetapi perbuatan bahkan perkataan mereka berasal dari si jahat. Mereka dapat menipu manusia, tetapi mereka tidak dapat menipu Tuhan.

Refleksi diri akan Firman Tuhan hari ini:

Termasuk yang manakah diri saya? Dalam jajaran benih gandum yang tumbuh subur ditengah ataukah ilalang yang juga tumbuh subur bersama dengan gandum. Apakah saya berada dalam barisan orang-orang pelaku kebenaran Firman Tuhan ataukah sebaliknya? Apakah perkataan dan perbuatanku sudah sesuai dengan ajaran Tuhan? Dalam dunia ini, secara kasat mata sulit membedakan mana orang-orang yang sungguh benar dan yang tidak. Apakah yang harus saya perbuat?

Orang-orang benar harus tetap bertahan sampai musim menuai, akan muncul sebagai pemenang dan bercahaya bagaikan matahari dalam Kerajaan Bapa. Hendaknya kita mempertahankan kualitas gandum yang baik karena kita berasal dari benih yang baik. Akan menjadi sia-sia jika kita menyebut diri sebagai gandum yang baik, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Dan hal tersebut tidak ada bedanya dengan ilalang.

Orang yang baik tidak akan menjadi lebih baik jika kebaikan yang dimilikinya hanya untuk dirinya sendiri. Haruslah kebaikannya menyebar dan mempengaruhi yang lain untuk menjadi lebih baik juga. Sebenar dan sebaik apapun diri kita, selalu ada saja upaya-upaya yang menyulitkan dan ingin menjatuhkan kita. Si jahat tidak akan pernah berhenti untuk menghancurkan kita. Oleh karena itu kita harus terus berjaga-jaga dan berdoa, berpegang pada Firman Tuhan. Menyediakan telinga untuk mendengar Firman Tuhan dan tidak berkompromi terhadap dosa.

Jika saya gandum, maka akan muncul buah-buah seperti yang Tuhan inginkan. Kita adalah anak-anak Allah yang hidup dalam pimpinan Roh Allah. Gandum membutuhkan waktu yang lama untuk dapat bertumbuh dan berbuah. Demikian juga dengan kita yang terus berproses setiap hari untuk dapat layak disebut sebagai anak-anak Allah.

DOA

Terima kasih Tuhan untuk Firman-Mu hari ini. Terima kasih untuk terus mengingatkanku untuk menjadi gandum yang tumbuh sehat dan berbuah. Ajarlah aku untuk terus berjuang dan berusaha menjadi lebih baik dalam Roh dan kebenaran Firman-Mu. Amin

Kasih karunia Tuhan menyertai kita semua. (VRE)