Buluh Yang Terkulai

Renungan Sabtu 18 Juli 2020 Hari Biasa Pekan Biasa XV

Bacaan: Mi. 2:1-5; Mzm. 10:1-2,3-4,7-8,14; Mat. 12:14-21.

Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. (Matius 12:20)

Tuhan Yesus sudah lebih dulu merasakan bagaimana menjadi buluh yang terkulai dan sumbu yang pudar, yaitu saat IA tak “berdaya” disiksa, dihina, dan dicaci. Orang-orang sekitar dan para musuh menganggap-Nya  pecundang sejati. Bahkan para murid-Nya pun banyak yang kecewa atas ketakberdayaan seorang Guru hebat yang selalu mereka banggakan! Tapi kemuliaan Allah memang harus dinyatakan melalui kematian-Nya di atas kayu salib dan kebangkitan-Nya.

Dulu saya mempunyai rekan pelayanan satu komunitas, yang sering membuat saya jengkel dan frustasi, karena sering menghambat dan menjadi beban. Rapat yang seharusnya satu jam bisa molor menjadi dua jam karena ia yang sering aktif mengeluarkan pendapat dan argumen yang “aneh”. Bahkan tidak jarang rapat selesai dengan keputusan yang mengambang. Belum lagi ia sering berselisih paham dengan rekan-rekan lain. Teguran halus penuh kasih sampai dengan kata-kata “tajam” beberapa kali saya lontarkan saat empat mata,  tapi tidak berpengaruh apa-apa. Akhirnya saya sampai pada suatu kesimpulan untuk tidak melibatkannya lagi dalam rapat ataupun kegiatan-kegiatan komunitas.

Tapi sebelum merealisasikan keputusan itu, saya diberi nasihat oleh seorang senior. “Tolong pikirkan lagi! Dia saat ini seperti buluh yang terkulai dan sumbu yang pudar, jangan padamkan. Beri kesempatan lagi. Tuhan Yesus pasti menolong kita!”

Ternyata rekan saya ini sedang stress karena tidak siap memasuki masa pensiunnya (Post Power Syndrome). Sehingga mencari penghargaan dan pengakuan dari sekitarnya termasuk komunitas kami. Tentu saja yang paling merasakan dampak langsung adalah istri dan anak-anaknya. Akhirnya dengan pengertian yang baru dan semangat kasih persaudaraan dalam Kristus, kami sepakat memberi tanggungjawab yang lebih besar kepadanya. Dan ternyata dapat diselesaikannya dengan sangat baik meskipun sikapnya masih sedikit menjengkelkan dalam rapat-rapat yang diadakan dan pada saat eksekusi langsung di lapangan, tetapi cara pandang kami dalam tim komunitas sudah berubah lebih baik.

Manusia tidak ada yang sempurna. Bahkan saya sangat jauh dari kriteria sempurna itu. Saya juga sering seperti buluh yang terkulai atau sumbu yang pudar tetapi Tuhan Yesus selalu sabar, penuh kasih dan pengertian karena sudah lebih dulu “mengalaminya” untuk kemudian menjadi pemenang.

It’s OK to be not OK because Jesus always… ( isi sendiri sesuai pengalamanmu).

Doa

Terima kasih Tuhan Yesus untuk empati-Mu yang luar biasa! (LO)