Benih dan Tanah

Renungan Minggu 12 Juli 2020, Hari Minggu Biasa XV

Bacaan: Yes. 55:10-11Mzm. 65:10abcd,10e-11,12-13,14Rm. 8:18-23Mat. 13:1-23 atau Mat. 13:1-9

Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! (Matius 13:8-9)

Pengajaran-pengajaran Yesus selalu merujuk kepada Kerajaan Allah. Dalam menyampaikan pengajaran-Nya, Ia banyak memakai kiasan, perumpamaan yang ada dan hidup di tengah alam lingkungan dan kehidupan sosial para pendengarnya sehingga pengajaran-Nya mudah ditangkap dan dimengerti.

Perumpamaan tentang penabur, benih dan tanah, bercerita tentang bagaimana kita bisa hidup dalam kerajaan tersebut. Penabur adalah Yesus, benih adalah sabda Allah dan tanah adalah ladang hati kita. Benih sabda Allah yang ditabur bisa jatuh ke atas bermacam-macam tanah. Ada yang jatuh di jalan yang keras, ada yang di atas tanah yang berbatu, ada yang jatuh di semak duri dan ada benih di atas tanah yang baik dan subur.

Benih yang jatuh di atas jalan yang keras, sehingga benih-benih akan segera hilang dipatuk burung, menggambarkan orang beriman yang mendengarkan sabda Tuhan, tetapi sabda itu tidak tinggal di dalam hatinya, sehingga si jahat, iblis dengan mudah merampasnya.

Benih yang jatuh di tanah yang berbatu, menggambarkan orang-orang beriman yang begitu antusias mendengarkan sabda Tuhan, tetapi sabda itu tidak berakar kuat sehingga ia mudah mengering dan menjadi layu karena berbagai pergumulan dalam hidupnya.

Ada benih yang jatuh di tengah semak berduri, ini menggambarkan sebagai orang beriman yang mendengarkan sabda Tuhan, rajin beribadah ataupun kegiatan pelayanan, tetapi dia mudah jatuh dalam tipu daya iblis, bisa terjadi karena selalu khawatir, cemas atau kelekatan hidup pada hal-hal material, atau kenikmatan duniawi daripada hidup dalam Tuhan.

Namun ada benih yang jatuh di tanah yang baik, dialah orang-orang beriman yang dengan sungguh mendengarkan Sabda Tuhan, lalu mempraktikkan dan mengamalkan dalam kehidupannya.

Kiranya perumpamaan di atas juga ditujukan kepada kita. Ladang hati kita sebagai tempat bersemayam dan tempat berelasi dengan Tuhan Allah, termasuk tanah yang bagaimana, adakah ladang hati kita sudah termasuk tanah yang baik, tekun mendengarkan Sabda Allah, mempraktikkan dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita juga bisa meneladan Kristus untuk menaburkan benih-benih yang akan berbuah Kerajaan Allah?

Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. (Yesaya 55:10-11)

Berkah Dalem
FXST