Yang Terutama

Renungan Jumat 5 Juni 2020 Hari Biasa, Pekan Biasa IX

Bacaan: 2Tim. 3:10-17; Mzm. 119: 157, 160, 161, 165, 166, 168; Mrk. 12:35-37

Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula? (Markus 12:37a)

Seringkali manusia sangat memerhatikan latar belakang seseorang dalam memilih atau menunjuk seseorang untuk suatu jabatan atau peran. Latar belakang ini demikian pentingnya, sehingga banyak kejadian di mana orang menyembunyikan asal usulnya.

Beberapa waktu yang lalu, pernah beredar tulisan di sosial media, suatu ulasan tentang Presiden kita, Bapak Joko Widodo, mengenai mengapa orang sangat berani menghujat beliau. Dituliskan di sana bahwa banyak orang tak segan menghinanya karena beliau hanya anak seorang tukang kayu. Ternyata memang sulit bagi kebanyakan orang untuk menghargai orang lain apa adanya, tanpa mencari alasan-alasan untuk memperkecil karya-karyanya. Mengapa? Jawabnya: biasanya karena cemburu dan iri hati.
Pada dasarnya kebesaran orang lain menimbulkan rasa iri hati, yang berdampak pada keinginan untuk menurunkan kebesaran itu.

Mengakui kehebatan sesama, membutuhkan hati yang luas bagai samudra; batin yang tetap tenang dan damai sekalipun tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain. Yesus adalah Guru dan teladan kita. Ia menyadari bahwa Ia diragukan karena asal-usul-Nya, namun Ia tetap tidak memusuhi orang-orang yang mempertanyakannya.

Marilah kita selalu mencukupkan diri dengan kasih Tuhan, sehingga segala hal lain yang tidak kita dapatkan, tidak lagi menjadi masalah bagi kita.

Doa: Allah yang Mahakasih, berilah kami hati yang selalu bersyukur dan merasa cukup dengan kasih setia-Mu dalam kehidupan kami. Amin (LK).