Tenanglah Hai Jiwaku

TENANGLAH HAI JIWAKU

(Rm. Yohanes Lulus Widodo, Pr)

Tenanglah hai jiwaku. Namun bagaimana kita bisa tenang di dalam keadaan seperti sekarang ini, di tengah pandemi COVID-19.

Romo Lulus mengajak kita untuk terlebih dahulu belajar dari Mazmur 131:2-3. Mazmur ini mengajarkan, kita akan dapat tenang bila kita seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, yang tidak sombong, tidak tinggi hati, tidak berpikir muluk-muluk, selalu rendah hati dan dapat bersyukur atas keadaan yang terjadi.

Kemudian Romo Lulus mengajak kita melihat lebih dalam, bahwa kita bisa tenang kalau kita dekat dengan Tuhan (Mazmur 62:2-3).

Di dalam Tuhan ada 3 (tiga) ketenangan:

  • Tenang atas masa lalu. (Filipi 3:13b-14)

Jiwa kita tidak akan bisa tenang kalau kita terikat pada masalah di masa lalu, apalagi bila kita mempunyai kepahitan. Kita harus mau melepaskannya dan mau disembuhkan. Gereja Katolik mempunyai Sakramen Tobat.

Terimalah Sakramen Tobat, sembuhkanlah luka batin kita, supaya kita bisa bersukacita dalam hidup kita ini, dalam pelayanan kita.

  • Tenang di masa kini (Filipi 4:13)

Saat ini kita menghadapi masalah pandemi COVID-19, bahkan mungkin ada yang terkena. Kita gelisah, bingung, tidak tenang. Namun kita bisa menjadi tenang, bila kita siap untuk menanggungnya di dalam Tuhan.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13)

  • Tenang atas masa depan (Amsal 23:18)

Kita akan tenang bila kita percaya, masa depan dan harapan kita tidak akan hilang karena ada di tangan Tuhan. Hanya di dalam Tuhan kita percaya. Tuhan tidak akan meninggalkan kita (Ibrani 13:5b). Jangan takut, jangan kuatir akan hidupmu (Yohanes 14:27).

Ditambahkan oleh Romo Lulus, di dalam menghadapi masalah kita harus selalu bersama Tuhan. Bila Tuhan bersama kita, kita akan dikuatkan dan menjadikan penderitaan sebagai pemurniaan bagi hidup kita dan dengan penderitaan kita bisa mengalami kasih Tuhan yang lebih mendalam.

Contoh: Sejarah Gereja menuliskan bahwa Gereja tidak pernah lepas dari penderitaan, tetapi Tuhan senantiasa ada bersama Gereja-Nya dan tidak pernah meninggalkannya. Melalui penderitaan, maka Gereja dimurnikan.