Siapakah Aku ini?

Renungan Senin, 29 Juni 2020

Bacaan: Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19.

“Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Matius 16:15)

Seorang ayah bertanya kepada anaknya yang masih berusia 6 tahun, kata orang, siapakah ayah? Setelah berpikir sejenak, anak ini menjawab, ada yang mengatakan polisi, ada yang mengatakan Pak RT, ada juga yang memanggil pak Budi. Kemudian ayahnya bertanya lagi, menurut kamu, siapakah ayah? Dengan wajah ceria, anak ini menjawab, Ayahku! Anak ini mengenal ayahnya dengan pengenalan yang bersifat pribadi dan lebih mendalam dibandingkan orang lain.

Pada bacaan Injil hari ini, kalau kita lihat lagi Yesus bertanya 2 kali, dengan pertanyaan pertama dan kedua yang berbeda. Pada pertanyaan pertama Yesus menggunakan kata “Anak Manusia.” “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Para murid pun menjawab dengan jawaban menurut orang banyak.

Pada pertanyaan kedua, Yesus menggunakan sudut pandang pertanyaan yang berbeda, tidak lagi menggunakan “kata orang” namun menggunakan “menurut kamu”, tidak lagi menggunakan kata “Anak Manusia”, melainkan menggunakan kata “Aku”. Pertanyaan yang berbeda menjadikan jawaban para murid juga berbeda. Mereka sangat mengenal Yesus, sehingga Petrus sebagai seorang murid Yesus menjawab pertanyaan bukan dari jawaban-jawaban orang lain atau katanya, namun Petrus menjawab dari dalam dirinya sendiri yaitu Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.

Siapakah Yesus menurut engkau? Ini adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab jika tidak ada pengenalan dan pengakuan iman yang benar. Jika kita sendiri tidak mengalami Yesus yang hidup dan tidak mengimani Dia sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, maka kita  hanya akan mengulang-ulang pengakuan iman orang lain. Mulut berbicara, tapi hati keyakinan dan seluruh keberadaan kita tidak mencerminkan kepada apa yang kita akui tersebut.

Pengenalan kita akan Yesus adalah pengenalan yang bersifat pribadi, bukan sekedar kata orang atau hanya menyaksikan perbuatan-perbuatan-Nya bagi orang lain, tetapi karena kita mengalami sendiri hidup bersama-Nya.Yesus menginginkan pengakuan yang bukan hanya berdasarkan pengetahuan semata, tapi pengakuan yang lahir karena hubungan pribadi yang intim dengan Dia.

Jika sekali lagi Yesus bertanya kepada kita, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Mari sekali lagi kita merenungkan arti Yesus bagi hidup kita, sehingga kita bisa seperti Petrus menjawab dengan yakin, Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, karena dalam kehidupan sehari-hari kita intim dengan-Nya, sangat mengenal-Nya, mengalami Dia yang hidup dan mau menyerahkan seluruh keberadaan kita di dalam tangan-Nya.

Doa

Terima kasih untuk iman yang telah Engkau berikan kepada kami, iman yang bisa melihat Engkau sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Sertai kami dalam setiap pergumulan di dunia ini dan mampukan kami melihat rancangan-rancangan indah-Mu serta tambah-tambahkan iman kami sehingga kami mengakui Engkau bukan hanya dengan lidah tapi dengan seluruh perbuatan kami yang meneladani hidup Yesus dan selalu mengerakkan kami untuk mewartakan kabar sukacita-Mu sehingga banyak orang mengalami keselamatan. Amin. (MEN)