Siapa Takut?

Renungan Minggu 21 Juni 2020

Bacaan: Yer. 20:10-13Mzm. 69:8-10,14,7,33-35Rm. 5:12-15Mat. 10:26-33

Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. (Matius 10:28)

Sebagai seorang manusia kita wajar untuk mengalami ketakutan. Ketakutan adalah salah satu tanggapan emosi terhadap suatu ancaman. Takut adalah salah satu emosi dasar manusia seperti kebahagiaan, kesedihan dan kemarahan.

Ada sebuah kisah di Korea Selatan tentang seorang perawat rumah sakit bernama Jang Bok Soon yang bekerja sebagai perawat ICU di National Medical Center, di Seoul. Jang berbagi kisah tentang melawan rasa takut saat harus merawat pasien COVID-19. Mereka harus mempersiapkan diri dengan seksama sebelum memasuki ruang perawatan intensif, tempat para pasien COVID-19 dirawat, termasuk menggunakan berlapis lapis baju pelindung yang berat.

“Kami tidak bisa mendengar dengan baik dan indra peraba rasanya tumpul saat mengenakan alat pelindung,” Jang mengatakan berkomunikasi saja sangat sulit saat menggunakan baju pelindung. ”Itu yang sangat mencemaskan.” tuturnya. Selain itu, baju yang sangat berat juga membuat para perawat kelelahan. Mereka bergantian melakukan giliran kerja setiap dua jam. “Kami juga ketakutan,” ujar Jang. ”Tapi kami harus memaksa diri berpikir mereka adalah pasien biasa, dengan begitu rasanya tidak terlalu menakutkan lagi.” Semua ini pasti dilakukan karena panggilan hati mereka, kasih mereka terhadap pasien COVID-19 mengalahkan ketakutan mereka terhadap penyakit COVID-19.

Santo Thomas Aquinas mengatakan kasih adalah sumber dari segala ketakutan, karena semua orang biasanya takut akan kehilangan apa yang dikasihinya.  Tetapi ketakutan yang kudus akan mendisiplinkan kita untuk tidak mencari apa yang kita mau tetapi untuk membahagiakan apa yang kita kasihi dan kita pun akan berbahagia bila orang yang kita kasihi berbahagia. Hal ini terlihat bahwa perawat Jang berani untuk mengalahkan ketakutannya karena kasihnya terhadap pasien COVID-19.

Ayat hari ini dari Matius 10:28 sangat menguatkan kita, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.“ Kita sebagai umat pilihan-Nya hendaknya benar-benar memiliki rasa takut yang benar, bukan takut terhadap sesuatu yang bersifat sementara. Saat kondisi ekonomi dalam masa pandemi ini banyak sekali ketakutan, ketakutan terhadap kehilangan pekerjaan, ketakutan terhadap masa depan yang gelap, sehingga mungkin banyak orang yang mulai hilang kepercayaannya kepada Tuhan, malah ada yang mulai pergi ke “orang pintar”. Mereka malah ada yang berani menjual jiwa mereka.

Semoga kita semua umat pilihan Tuhan tetap memiliki iman, pengharapan dan kasih yang kuat, hanya memiliki takut akan Tuhan dan takut akan kehilangan kasih Tuhan yang sempurna akan merawat, menjaga dan melindungi kita senantiasa.

Doa: Tuhanku yang kukasihi, saat ini di tengah badai akibat pandemi ini, banyak di antara kami mengalami ketakutan seperti para rasul di dalam perahu yang tekena badai. Banyak dari kami saat ini mengalami ketakutan terhadap penyakit, ketakutan akan kematian, ketakutan akan kehilangan pekerjaan, ketakutan akan kehilangan orang-orang yang kita kasihi. Terima kasih Tuhan Engkau menenangkan kami dengan kata kata “Jangan Takut” yang sampai Engkau ulangi tiga ratus enam puluh lima kali, sehingga setiap hari kami kau ingatkan sepanjang tahun. Hari ini kami diingatkan kembali untuk tidak takut terhadap apapun yang akan kami hadapi, ketakutan kami akan kematian Kau pastikan dengan kebangkitan Putra-Mu. Kehilangan pekerjaan atau harta kau berikan kami contoh Ayub yang menguatkan kami. Ya Tuhan  saat ini kami berharap hanya memiliki satu ketakutan, yaitu takut kehilangan kasih-Mu. Tuhan kami tahu saat ini adalah saat di mana kita harus lebih belajar untuk tekun dan setia kepada-Mu. Kiranya tumbuhkanlah iman kami semua dan dengan perantaraan Putra-Mu yang terkasih  Tuhan kami Yesus Kristus. Amin. (AlX)