Sesungguhnya Engkau Anak Allah

Renungan Selasa 30 Juni 2020

Bacaan: Am. 3:1-8; 4:11-12; Mzm. 5:5-6,7,8; Mat. 8:23-27.

Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. (Matius 8:26)

Sebagai murid Yesus yang telah mengikuti Dia, pada akhirnya hal yang paling utama adalah apakah kita mempercayai Yesus  sebagai Anak Allah yang menyelamatkan dan memiliki kuasa untuk menolong kita dalam segala sesuatu.

Meskipun telah melihat berbagai mukjizat yang dilakukan Yesus, tetapi ketika angin ribut mengamuk dan menggoncangkan perahu mereka dalam penyeberangan melewati Danau Galilea, para murid merasa ketakutan dan putus asa dengan mengatakan, “Tuhan, tolonglah, kita binasa”,  sementara Yesus sebenarnya bersama mereka dalam satu perahu. Oleh karena itu Yesus mempertanyakan keyakinan mereka kepada para murid, “Mengapa kalian takut, hai orang yang kurang percaya?”

Setelah Yesus menghardik angin dan danau sehingga menjadi teduh, para murid mempertanyakan, “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” Pada saat itu para murid Kristus masih terheran-heran dan mempertanyakan identitas Yesus dengan mempertanyakan orang apakah Dia. Namun kelak kemudian hari, ketika Yesus meredakan angin sakal di saat mereka sedang berperahu, pengetahuan dan iman mereka akan identitas Yesus telah bertumbuh dengan mengatakan, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” (Matius 14:33).

Dulu saya adalah tipe orang yang mudah kuatir dan sensitif jika terjadi sesuatu di luar pengharapan saya. Banyak hal yang tiba-tiba dapat merampas kegembiraan dan memancing emosi mulai dari kesalahan pekerjaan, komentar orang lain, prestasi anak-anak dan ketidakberhasilan. Sehingga tidak jarang saya bersikap pesimis dan mengeluarkan kata-kata yang kurang positif.

Bergabung dan belajar dalam komunitas Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) menolong saya untuk mengerti kasih Allah, mempercayai rencana Allah dan mengimani Yesus sebagai Anak Allah yang menjadi Raja dan Juru Selamat hidup saya. Saya dapat mengandalkan pertolongan Yesus , Ia juga memberikan yang terbaik lebih dari yang dapat saya doakan dan pikirkan.

Pertumbuhan iman itu ternyata memproses dan mengubah cara hidup saya. Saat ini, ketika menghadapi hal yang sulit atau tidak sesuai harapan, saya mampu tetap tenang dan bersukacita. Bahkan seringkali saya dapat melihat dengan perspektif yang berbeda dan memikirkannya sebagai suatu kesempatan atas berkat atau bimbingan yang ingin diberikan oleh Tuhan agar saya lebih bertumbuh lagi dalam pengenalan akan kasih dan kuasa-Nya. Perubahan ini juga membahagiakan keluarga, lingkungan dan orang-orang yang bekerja sama dengan saya.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk menyenangkan-Mu dengan mempercayai bahwa Engkau selalu hadir dalam setiap peristiwa hidup kami dari yang menggembirakan maupun yang menantang kekuatiran kami. Dalam situasi sulit saat ini akibat pandemi COVID-19, kuatkanlah iman kami untuk semakin percaya bahwa Engkau sanggup menolong kami dalam segala situasi hidup kami. Semoga iman dan pengharapan kami kepada-Mu dapat memberikan kekuatan dan pertolongan bagi sesama di sekitar kami. Amin. (RMWT)