Menjadi Garam dan Terang di Era New Normal

MENJADI GARAM DAN TERANG DI ERA NEW NORMAL

(Rm. Anton Gunardi, MSF)

Makna Garam

  • Warna putih melambangkan kesucian, kemurnian, yang memberi makna kita diutus untuk terus menjunjung tinggi norma kehidupan, kejujuran, kerajinan kerja, dalam percakapan, tingkah laku dan pergaulan kita. Tidak cemar oleh dunia.
  • Garam adalah pengawet, punya daya anti septik, yang memberi makna kita punya daya kasih yang berguna untuk menyingkirkan kejahatan.
  • Garam memberi rasa. Bermakna bahwa kehadiran kita memberikan rasa, menjadi saluran sukacita dan arus rahmat

Makna Terang

Terang untuk dilihat, tidak bersembunyi, pemandu, pembimbing seperti lampu mercusuar di pelabuhan, atau lampu di bandara yang mengarahkan pesawat terang untuk mendarat. Ini memberi arti bahwa melalui kehadiran dan kesaksian hidup kita, banyak orang dapat melihat, memuji dan memuliakan nama Tuhan Yesus. Melalui kesaksian, contoh dan teladan kekudusan hidup,  kita juga menjadi pembimbing, pendamping yang mengarahkan banyak orang untuk bertemu dengan Yesus.

Dalam keadaan apapun, tiga hal mengenai garam dan terang boleh menjadi renungan bagi kita semua. Batu boleh membuat kaki kita tersandung, tetapi langkah kita jangan sampai terhenti. Situasi pandemi Covid 19 boleh terjadi, tetapi kita tidak boleh berhenti menginjil (mewartakan Kabar Baik). Masalah boleh datang menguji hati kita, tetapi semangat di hati (untuk membagikan Kabar Baik), jangan sampai terhenti. Tetaplah melangkah bersama Tuhan karena Dia tidak pernah ingkar janji. Penyertaan-Nya kini dan selama-lamanya sempurna. Maka marilah kita menunjukan kualitas hidup kita (sebagai murid Kristus).

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. ( Mat. 5:13 dan bdk Mrk. 9:50, Luk. 14:34)

Orang yang dekat dengan Tuhan bukan berarti tidak akan ada air mata. Orang yang taat pada Tuhan bukan berarti tidak ada kekurangannya. Orang yang tekun berdoa bukan berarti tidak ada masa-masa sulit yang dialaminya. Tetapi orang tersebut akan selalu mengalami penyertaan Tuhan dalam hidupnya.

Dengan masalah pandemi Covid 19 ini, fokus kita jangan dibelokkan. Kita harus terus lurus, kudus, fokus pada Tuhan Yesus. Dalam pergumulan pasti ada harapan. Di padang gurun pun, kita akan dipelihara Tuhan. Biarlah Tuhan berdaulat sepenuhnya atas hidup kita karena Ia tahu waktu yang tepat untuk memberi yang terbaik kepada kita.

Bila kerja kita tidak dihargai, maka pada saat itu kita sedang belajar ketulusan. Ketika usaha kita dinilai tidak penting, maka saat itu kita sedang  belajar keikhlasan. Ketika hati kita terluka sangat dalam, maka saat itu kita belajar memaafkan. Ketika kita lelah dan kecewa, maka kita sedang belajar kesungguhan. Ketika kita sepi dan sendiri, maka saat itu kita sedang belajar ketangguhan. Ketika kita harus membayar biaya yang tidak perlu kita tanggung, maka saat itu sedang belajar kemurahan hati.

Di masa seperti ini, kita harus tetap semangat, tetap sabar, tetap tersenyum, terus belajar karena kita sedang menimba ilmu di universitas kehidupan. Tuhan menaruh kita di tempat sekarang ini bukan kebetulan. Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan kenyamanan, melainkan dibentuk melalui tantangan, kesukaran bahkan air mata.

Ketika kita merasakan sesuatu yang sangat berat, merasakan ditinggal sendirian, maka angkatlah tangan dan kepala kita. Tataplah masa depan. Ketahuilah Tuhan mempersiapkan kita menjadi orang yang luar biasa.

Karena itu kita harus menyadari bahwa suatu perahu dibuat bukan hanya untuk ditambatkan dan diam di dermaga, tetapi untuk mengarungi samudra, untuk berada di tengah lautan. Demikian juga kita manusia, diciptakan untuk mengarungi gelombang kehidupan dan bukan berdiam diri menunggu kehidupan berakhir.

Di dalam mengarungi kehidupan akan banyak ombak, mungkin juga badai akan kita hadapi. Itulah seni kehidupan. Maka teruslah kembangkan layar pewartaan kita dan nikmati perjalanan kita hingga sampai ke tujuan.

Di dalam kehidupan jangan takut jatuh dan salah. Setiap kesalahan yang pernah kita lakukan adalah bagian dari proses pembentukan diri kita. Jangan selalu menyesal akan kesalahan yang telah kita perbuat. Tetapi jangan ulangi kesalahan yang sama. Sesalilah jika kesalahan itu tidak berdampak apa-apa untuk perubahan hidup kita (membuat kita menjadi lebih baik).

Mendung diciptakan bukan untuk membuat langit gelap tetapi ia hadir untuk memberi kabar gembira akan sejuknya air hujan yang akan turun. Luka bukan hanya semata-mata membuat kita tersiksa tetapi ia terjadi agar kita menyadari bahwa kita hanyalah manusia biasa.

Genggam keyakinan kita. Jangan pernah dilepaskan. Indahnya kehidupan bukan terletak pada banyaknya kesenangan tetapi terletak pada rasa syukur kita (1 Tes. 5:18). Maka jangan padamkan Roh (1 Tes. 5:19). Teruslah belajar lebih dalam lagi agar nanti saat kita memasuki new normal, kita menjadi seorang yang luar biasa, menjadi garam dan terang yang berkualitas.

Garam dan Terang Sebagai Identitas - SELISIP.com

×