Mengalami Kasih Allah

Renungan Minggu 7 Juni 2020, Hari Raya Tritunggal Maha Kudus

Bacaan: Kel. 34:4b-6,8-9; MT Dan. 3:52,53,54,55,562Kor. 13:11-13Yoh. 3:16-18

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Dahulu ketika saya menghadapi suatu masalah atau kegagalan, saya seringkali berpikir bahwa Tuhan menghukum karena saya melakukan sesuatu dosa. Dalam pikiran saya waktu itu Tuhan ada di mana-mana dan selalu melihat kalau saya melakukan sesuatu yang salah dan akan segera Tuhan menghukum saya. Bagi saya menjadi seorang katolik adalah orang yang harus taat dengan aturan-aturan yang banyak sanksinya kalau tidak dilakukan. Saya lahir dari keluarga katolik yang cukup taat, tetapi saya hanya tahu tentang Allah Tritunggal sebatas pelajaran di sekolah sebagai pengetahuan saja, bahkan saya tidak pernah mengerti bahwa Allah sangat mengasihi saya, saya tidak pernah sadar bahwa Allah selalu peduli dan menyertai saya.

Namun sejak saya mengikuti Seminar Hidup Dalam Roh dan mulai belajar membaca kitab suci, seperti sesuatu yang terselubung itu menjadi terbuka, saya baru menyadari bahwa Allah Bapa sungguh-sungguh mengasihi saya, sehingga Allah Bapa mengutus Yesus untuk menebus dosa-dosa saya.

Melalui membaca kitab suci, doa pribadi, komunitas dan pelayanan, saya menyadari, merasakan dan mengalami kasih Allah Bapa yang sungguh hidup dan nyata. Saya mengalami pertolongan-Nya yang tepat pada waktu-Nya. Saya mengalami kekuatan ketika saya mengalami sesuatu pergumulan, sehingga saya semakin menyadari bahwa saya terlalu rapuh dan lemah. Saya menyerahkan seluruh segi kehidupan saya kepada penyelenggaraan Ilahi dan menjadikan saya ingin mewartakan kasih Tuhan yang saya alami ini kepada setiap orang di sekitar saya dan di mana pun, agar mereka mengalami kasih Allah Bapa yang hidup dan nyata.

Dunia saat ini dilanda badai penyakit yang mewabah melintasi benua. Banyak keadaan menjadi berubah, banyak orang menjadi tidak berdaya, semua mengalami tekanan yang luar biasa, seolah-olah tidak ada harapan lagi. Namun saya bersyukur karena saya percaya akan kasih Bapa yang memelihara hidup saya. Di dalam kasih tidak ada ketakutan, di dalam kasih selalu ada harapan, sehingga saat ini saya tetap merasakan ketenangan dan sukacita.

Doa: Bapa aku bersyukur dan berterima kasih untuk cinta-Mu yang sungguh besar dalam hidupku. Aku mau berjalan senantiasa bersama-Mu Bapa, dan Engkau yang memimpin setiap langkahku. Amin. (CTS)