Kemurnian Dalam Pernikahan

Renungan Jumat 12 Juni 2020

Bacaan: 1Raj. 19:9a,11-16Mzm. 27:7-8a,8b-9abc,13-14Mat. 5:27-32

Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. (Matius 5:27-28)

Ada dua nafsu yang mendasar dalam diri manusia, yang pertama nafsu untuk mempertahankan hidup (nafsu makan) dan yang kedua nafsu untuk mempertahankan jenis (nafsu seks). Kedua nafsu ini bagian dari diri manusia dan diciptakan oleh Allah baik adanya. Tetapi karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, maka nafsu-nafsu yang diciptakan Allah baik adanya ini, seringkali membawa manusia ke dalam dosa, dan bila tidak dapat dikendalikan, maka kita kenal sebagai hawa nafsu.

Tuhan Yesus sendiri melalui Injil di atas, mengajak kita para murid-Nya untuk melakukan hukum Tuhan, sebagaimana yang dikehendaki Allah.

Tuhan mau memperbaiki ciptaan dalam kemurnian yang sejati. Dalam khotbah di bukit, Ia menjelaskan dengan tegas rencana Allah: “Kamu telah mendengar firman : jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu : setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Mat 5:27-28). Apa yang sudah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Tradisi Gereja telah memandang perintah keenam (dari sepuluh perintah Allah) sebagai sesuatu yang berhubungan dengan seluruh seksualitas manusia (KGK 2336).

Kebajikan kemurnian mengatur kehidupan seksualitas manusia, mengarahkan kepada keutuhan pribadi dan kesempurnaan penyerahan diri, baik kepada Allah dan kepada pasangan (bila menikah). Kebajikan kemurnian dihayati oleh manusia, apapun status hidupnya, yang pertama mereka yang menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dalam keperawanan atau selibat demi Kerajaan Allah (bdk. Mat 19:12); kemudian mereka yang telah menikah ataupun belum menikah (bdk. KGK 2349).

Bagi mereka yang telah menikah, maka dipanggil menghayati kemurnian dalam pernikahan. Pernikahan Katolik adalah Sakramen, monogami dan tidak terceraikan, karena “apa yang disatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19:6).

Pernikahan adalah sakramen, karena merupakan tanda untuk perjanjian antara Kristus dengan Gereja. Ia memberikan rahmat kepada suami istri, agar saling mencintai dengan cinta, yang dengannya Kristus mencintai Gereja. Dengan demikian rahmat sakramen menyempurnakan cinta manusiawi suami istri, meneguhkan kesatuan yang tidak terhapuskan dan menguduskan mereka di jalan menuju hidup abadi (KGK 1661).

Kemurnian dalam pernikahan bagi suami istri dihayati dengan melakukan hubungan seks hanya dengan pasangannya. Karena pada dasarnya pernikahan mempunyai “sifat kesatuan, tak terceraikan dan kesediaan untuk kesuburan (mempunyai keturunan)”. Poligami tidak sesuai dengan kesatuan pernikahan. Perceraian memisahkan apa yang Allah telah persatukan; penolakan untuk menjadi subur, menghapus dari hidup pernikahan, ‘anugrah yang paling utama’, yaitu anak (GS 50,1)” [KGK 1664].

Kemurnian dalam pernikahan ini perlu dihayati dan diperjuangkan, dengan penyangkalan diri dan kesetiaan pada pasangannya.

Penyangkalan diri dapat dilakukan dari hal yang paling sederhana, misalnya:

  • Menjaga mata (bdk. Mat 5:28), kita seringkali dengar gurauan atau joke, kalau orang sudah menikah perlu dipasang “kacamata kuda”, artinya seperti kuda yang dipasang kacamata dengan tujuan supaya pandangan hanya lurus ke depan, dalam arti pandangan hanya ke pasangannya, tidak ‘tolah-toleh’ dan mata ‘jelalatan’ ke mana-mana.
  • Menghindari hubungan yang terlalu dekat dan mendalam dengan lawan jenis yang bukan pasangannya, misalnya hindari terlalu sering curhat (mencurahkan isi hati) kepada orang itu-itu saja.

Dari Injil di atas, yang juga sering dijadikan alasan untuk membenarkan perceraian, firman Tuhan dalam Mat 5:32, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah , ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.”  

Dengan argumentasi, bahwa orang boleh bercerai, karena pasangannya berzinah. Maka dalam teks Injil di atas “…kecuali karena zinah”, Gereja melihat dari bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani, maka kata “zinah”, terjemahan LAI, bila dilihat bahasa aslinya, berasal dari kata “pornea”, yang lebih tepat diterjemahkan sebagai hubungan seks sedarah (hubungan inses). Maka bila terjadi hubungan sedarah, misal antar saudara-saudari sekandung, ayah/ibu dengan anaknya, maka harus dipisahkan.

Perintah Tuhan dalam Injil hari ini mengajak kita untuk melihat pernikahan dan seksualitas sebagai anugerah Tuhan. Tuhan menguduskan pernikahan, dan Dia menghendaki kehidupan pernikahan dihayati dalam kemurnian. “Kemurnian, berarti bahwa seksualitas sudah diintegrasikan ke dalam pribadi, dan merupakan sekolah pengendalian diri” (KGK 2395; bdk. KGK 2337).

Tuhan Yesus, utuslah Roh Kudus untuk membarui dan meneguhkan selalu rahmat sakramen pernikahan yang Engkau anugerahkan kepada kami sebagai pasangan suami istri. Berilah kami kuasa Roh Kudus, untuk menguatkan kami menghayati kemurnian dalam pernikahan kami. Terima kasih, karena Engkau yang satukan kami sebagai suami istri, maka hantarlah kami selalu untuk saling mengasihi dan berjalan bersama menuju kepada-Mu. Amin. (ET)