Hidup Menuju Kekudusan

Renungan Jumat 19 Juni 2020, Hari Raya Hati Yesus Maha Kudus

Bacaan: Ul. 7:6-11Mzm. 103:1-2,3-4,6-7,8,101Yoh. 4:7-16Mat. 11:25-30

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (Matius 11:28-29)

Bapak Ibu yang terkasih dalam Kristus, hari ini kita merayakan Hari Raya Hati Yesus Maha Kudus. Meskipun kita mungkin hanya bisa mengikutinya lewat live streaming tetapi melalui perayaan ini kita diajak untuk menghormati dan mensyukuri cinta dan belas kasih Bapa yang memancar dari hati Yesus Yang Maha Kudus serta menganjungkan permohonan agar kita boleh mengambil bagian di dalam kekudusan hati-Nya sehingga kita pun mempunyai hidup menuju kekudusan dengan kasih yang berkobar kepada Tuhan dan sesama.

Kekudusan itu adalah salah satu sifat utama dari Allah. Kekudusan adalah kasih yang sempurna, sehingga kekudusan dan kasih adalah sesuatu yang tidak terpisahkan. Tuhan adalah Kudus (Im. 19:2; 1Ptr. 1:15)  sekaligus Dia adalah Kasih (1Yoh. 4:10,16). Kita patut bersyukur bahwa melalui pembaptisan kita telah dipersatukan ke dalam persekutuan murid-murid Kristus yang terus menerus dipanggil menuju kepada kekudusan. Oleh karena itu jika  ingin hidup kita menjadi kudus maka sudah semestinya kita juga berusaha untuk selalu hidup dalam kasih.

Dalam permenungan, pernah saya pesimis bisa hidup kudus. Itu seperti sesuatu yang mustahil untuk bisa saya lakukan. Mengapa? Saya belum bisa mengendalikan hawa nafsu. Kedagingan saya terlalu kuat untuk dikalahkan. Malas, tidak disiplin, tidak peduli, marah, menggosip, hiburan tidak sehat, sombong dan banyak lagi, semakin membuat saya menjauh dari janji yang pernah saya ucapkan ketika dibaptis. Sementara perbuatan baik saya masih terlalu minim. Bagaimana mungkin aku terbebas dari segala kelemahan ini? Untunglah tahun 2013 saya ikut KEP di Nganjuk. Di sana saya banyak mendapat pencerahan. Baik dari Bapak Ibu Guru, maupun dari teman-teman sejawat. Terlebih lagi lewat Lectio Divina. Saya masih ingat seorang Ibu Guru dari Surabaya memperagakan dengan teman siswa, bagaimana Tuhan Yesus mengenakan kuk yang harus dipikul oleh orang yang datang kepada-Nya. Kuk yang enak dan ringan dipikul, karena Tuhan Yesus tidak pernah melepaskan kita sendirian memikulnya. Ia akan selalu menopang kala kita lemah dan lelah.  Jadi, meskipun tadinya saya pesimis dan lelah karena terlalu berat beban kedagingan yang saya pikul akhirnya Tuhan Yesus yang memiliki Hati Maha Kudus dan Maha Kasih memberikan kelegaan kepadaku. Kekudusan yang tadinya mustahil dan menakutkan, kini menjadi arah dan tujuan hidup yang harus diperjuangkan. Ya, Tuhan memanggil dan saya datang. “Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” (Mat. 11:28)

Menurut Paus Fransiscus dalam Surat Anjuran Apostoliknya yang bertajuk Gaudete et Exultate (Bersukacita dan Bergembiralah), kita semua dipanggil untuk hidup kudus melalui perbuatan kasih dengan memberikan kesaksian dalam setiap perbuatan yang kita lakukan. (GE art 11:15).

Kekudusan itu tumbuh melalui isyarat-isyarat kecil:

  • Seorang ibu yang memilih untuk tidak menyebarkan gosip tentang orang lain, ia sedang mencapai kekudusan.
  • Seorang anak yang duduk dengan penuh kesabaran dan cinta untuk mendengarkan nasihat tentang impian dan harapannya meskipun ia lelah, ia sedang mencapai kekudusan karena mendengarkan dengan kesabaran dan cinta. (GE art 16).
  • Dan tentu dalam kehidupan kita sehari-hari banyak kesempatan, meskipun melalui hal-hal yang nampak kecil dan sederhana, mengajak kita untuk menjawab panggilan Tuhan mengambil bagian dalam kekudusan hati-Nya yang kita rayakan pada hari ini. Panggilan untuk membawa hidup kita menuju kekudusan dengan berbuat kasih kepada Tuhan dan sesama dengan perbuatan nyata.

Doa: Ya Tuhan Yesus yang lembut dan rendah hati, jadikanlah hati kami semakin menyerupai hati-Mu. Agar kami mampu membawa hidup kami menuju kekudusan dengan menjadi saksi-Mu dalam kata, sikap dan perbuatan kami sehari-hari. Amin. (MYM)