Berlindung pada Tuhan

Renungan Selasa, 2 Juni 2020 Hari Biasa Pekan IX

Bacaan: 2Ptr. 3:12-15a,17-18; Mzm. 90:2,3-4,10,14,16; Mrk. 12:13-17.

“Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?” (Markus 12:14)

Bila kalimat dan pertanyaan yang serupa diajukan kepada kita oleh seorang teman atau orang terpandang di masyarakat, apa jawaban kita? Bagaimana kita menjawab? Langsung dijawab atau berpikir dahulu tentang konsekuensi jawaban? Apa dan bagaimana pun jawaban yang kita berikan, mari kita lebih melihat kepada isi dan maksud di balik pertanyaan di ayat 14.

Yesus seakan-akan dihormati dan diakui dengan disapa sebagai Guru. Dilanjutkan dengan kata-kata pujian sebagai orang jujur, pemberani serta mengajar jalan Allah. Isi perkataan dan maksud si penanya bisa berbeda. Di sini kata-kata pujian orang-orang Farisi dan Herodian diikuti dengan pertanyaan jebakan.

Sebagian dari kita mungkin pernah mengetahui atau mengalami hal serupa. Menerima sesuatu yang terlihat baik seperti perhatian dan pujian namun ternyata ada modus tertentu di baliknya yang dapat merugikan kita. Seorang ibu tiri membunuh anak tirinya dengan memberi obat di makanan kesukaannya sehingga anak tersebut akhirnya meninggal setelah mengkonsumsi obat tersebut dalam jangka panjang. Asisten rumah tangga seorang teman terbuai rayuan seorang pria yang seumuran dengan anaknya, menikah dengannya dan akhirnya sekarang harus menafkahi suaminya yang sejak awal memang tidak bekerja.

Banyak hal yang perlu diwaspadai di sekitar kita. Kita perlu dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang dari Tuhan dan bukan. Dalam bacaan pertama, Rasul Petrus sudah mengingatkan agar kita menjaga hidup kita tetap bersih dengan memperhatikan dengan siapa kita bergaul. Jangan sampai kita terseret mereka yang tidak mengenal Tuhan dan menjadi sesat. Untuk itu Petrus mengatakan kita harus bertumbuh dalam kasih dan pengenalan akan Tuhan. Hal ini bisa kita alami saat berkomunitas dengan orang-orang percaya di mana kita dapat saling menjaga, saling mengingatkan dan menemukan Tuhan dalam sesama kita. Pemazmur menegaskan bahwa dalam Tuhan kita dapat berlindung agar tetap teguh tidak terombang-ambing keadaan, berita hoaks, pergaulan tidak sehat dan berbagai hal yang seperti perkataan orang Farisi, manis di awal namun ada jebakan di baliknya.

Doa: Bapa yang penuh kasih, ajar kami agar hanya memikirkan dan mengharapkan kasih setia-Mu sepanjang hari ini, bukan yang lain. Bukan pujian, bukan keinginan untuk menunjukkan eksistensi kami, atau berbagai hal seperti yang ditawarkan dunia. Amin. (ARFW)