Tunjukkanlah Bapa Kepada Kami

Renungan Minggu 10 Mei 2020, Minggu Paskah V

Bacaan: Kis. 6:1-7Mzm. 33:1-2,4-5,18-191Ptr. 2:4-9Yoh. 14:1-12.

Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” (Yohanes 14:8)

Yesus memberikan janji dan penegasan yang sangat indah kepada para murid-Nya, dan janji juga berlaku juga bagi kita semua orang yang percaya kepada-Nya, bahwa di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat.

Kalimat ini membawa saya kembali kepada ingatan beberapa puluh tahun lalu saat sedang mencari tempat tinggal (kos) karena saya berasal dari luar kota. Dengan bantuan keluarga dan teman, beberapa referensi yang kami hubungi mengatakan sudah penuh dan tidak ada tempat lagi. Saat merenungkan lebih dalam lagi, saya berimajinasi, seandainya suatu saat nanti, ketika saya berdiri di depan pintu Rumah Bapa dan mengetuknya dengan penuh harapan akan mendapatkan tempat, dan kemudian mendapat jawaban seperti yang saya dapatkan pada pengalaman mencari kos tadi, kira-kira bagaimana ya reaksi saya? Tidak terbayangkan seandainya hal ini benar terjadi dan jawaban yang diperoleh adalah “tidak ada tempat bagimu di sini.”

Nah sekarang mari kita lihat dua tokoh dalam Injil hari ini Tomas (the doubtful Thomas) dan Filipus. Seorang Tomas mengungkapkan kekhawatirannya dengan mengatakan: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Pernyataan Tomas mengandung keraguan dan ketidakyakinan akan janji Yesus. Sebaliknya, Filipus dengan spontan nyeletuk, “Tuhan. Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”. Ungkapan ‘sudah cukup bagi kami” mencerminkan kepercayaan Filipus yang teguh akan janji Yesus, dia tidak meragukan apa yang disampaikan Yesus. Nah, pribadi yang manakah kita?

Permenungan: 

Dalam perjalanan hidup, tidak jarang orang membiarkan dirinya terusik oleh berbagai peristiwa hidup sehingga tidak bisa menikmati rahmat dan damai sejahtera yang Allah berikan. Seberapa pun kuatnya kita berusaha menghindar dari masalah, tetap saja masalah pasti akan menghampiri kita. Nah, bagaimanakah kita bersikap tatkala masalah bertubi-tubi mampir dalam hidup kita? Apakah iman kita akan goyah? Atau, meragukan dan bahkan kehilangan kepercayaan pada Tuhan Yesus?

Yesus sangat paham bahwa tidak mudah bagi murid-murid-Nya untuk berjalan sendiri dan menghadapi dunia saat Dia sudah kembali kepada Bapa. Kesulitan ini yang saya bersama adik-adik harus hadapi di bulan Desember 2019 yang lalu; ketika dokter yang merawat ibu saya mengatakan, “mengingat usia yang sudah 90 tahun, seandainya dia ibu saya, akan saya bawa pulang dan buat dia bahagia di rumah, karena di rumah sakit sangat besar risiko untuk tertular penyakit lainnya.” Dokter mengatakan hal itu sambil memeluk saya dan adik bungsu karena hanya kami berdua yang ada bersama ibu. Tetapi ibu saya mengatakan pada dokter bahwa dia masih tetap semangat menjalani perawatan karena dia tahu Bapa Surga masih punya rencana untuk hidupnya di dunia. Maka dokter pun melanjutkan perawatan di rumah, dokter dan perawat yang datang ke rumah, sampai di bulan Januari 2020 saat kondisi ibu saya mulai melemah kembali dan harus dibawa ke rumah sakit, tidak ada pilihan. Dengan penuh kasih, dokter merangkul ibu saya dan membisikkan di telinganya; “Oma jika mau pulang, pulanglah, di rumah Bapa ada banyak tempat.” Tetapi, apa jawaban ibu saya? “Saya akan taat pada rencana dan kehendak Bapa. Saya sudah mau pulang karena tugas saya sudah selesai dan saya lelah sekali, tetapi pintu belum dibukakan.

Semua yang di kamar rawat menitikkan air mata, dokter memeluk ibu saya dan menyanyikan suatu lagu yang sangat indah. Perjalanan ibu saya berakhir pada bulan Februari yang lalu, dengan wajah ceria, sangat cerah ibu bangun di pagi hari, melihat ke atas, mengangkat kedua tangan terbuka lebar, dengan senyum di wajah ibu kemudian seperti memeluk seseorang. Dua kali hal demikian dilakukannya, dengan didampingi perawat pribadi dan adik saya yang kemudian mendekat sambil bertanya, “lihat siapa?”  Ibu hanya tersenyum cerah sekali, dan kembali memeluk seseorang dengan pandangan tetap ke atas. Di hari yang sama, pada malam hari ibu saya benar-benar kembali kepada Bapa Surga dalam keadaan sangat tenang, di tempat tidurnya dengan posisi setengah duduk, dan perlahan memejamkan mata lalu selesai.

Pelajaran bagi kami semua kakak-beradik, kami semua harus tetap yakin dan mengimani, Yesus adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Ibu kami sudah memberikan teladan bahwa dia mengenal Tuhannya secara pribadi dan sangat mencintai-Nya.

Doa: Tuhan Yesus, penuhi kami dengan sukacita-Mu, keyakinan dan pengharapan akan kehidupan kekal bersama Bapa dan Putera dalam Kerajaan Surga. Tunjukkan kepada kami Bapa agar kami dapat lebih mengenal-Nya dan memuji serta memuliakan-Nya lebih dalam dan lebih dalam lagi. Amin. (MM)