Tidak Ada Yang Dapat Merampas Sukacitaku

Renungan Jumat 22 Mei 2020

Bacaan: Kis. 18:9-18Mzm. 47:2-3,4-5,6-7Yoh. 16:20-23a

Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu. (Yohanes 16:22)

Kita tahu Tuhan tidak menjanjikan hidup yang selalu mulus tanpa halangan dalam hidup. Kita selalu berhadapan dengan tantangan dan permasalahan dalam hidup kita sehari-hari.

Saya dulu bertanya dalam doa; Tuhan Engkau selalu menyuruh kami bersukacita (Flp 4:4), tetapi bagaimana bisa bersukacita kalau mengalami masalah dan mengalami penderitaan akibat masalah tersebut?

Ketika saya masuk ke dalam permasalahan yang pelik dan membuat saya tidak dapat bersukacita bahkan hanya kesedihan yang saya alami waktu itu, saya berusaha bertahan seturut kadar iman saya yang saya miliki. Jatuh bangun dalam prosesnya, tetapi dengan berjalannya waktu dan saya terus berdoa dan juga mendapat pertolongan doa dari semua sahabat sepelayanan saya yang terkasih, saya perlahan bisa melihat bahwa Tuhan menyertai dan selalu menyertai di setiap waktu.

Ketika doa-doa saya dijawab dan dikabulkan Tuhan, secara perlahan saya mulai mengalami sukacita kembali meskipun masalah saya belum selesai. Ketika penghiburan Tuhan datang saat saya merindukan sesuatu dan tanpa saya minta Tuhan sediakan, saya merasa sangat diperhatikan-Nya. Tuhan juga selalu menolong dan melancarkan segala sesuatu dalam menghadapi masalah saya, saya sangat bersukacita meskipun masalah saya belum selesai.

Akhirnya saya memahami dan sadar kenapa saya harus bersukacita senantiasa dan bersyukur, karena Tuhan selalu ada bagi saya di mana pun, kapan pun dan terkhusus dalam keadaan apa pun di mana saya terpuruk di titik terdalam. Dia selalu ada dan penyertaan-Nya selalu membawa sukacita yang tidak bisa dirampas dari saya.

“Dan Aku senantiasa menyertai kamu sampai pada akhir zaman.” (Matius 28:20).

Seorang teman juga melalui ‘Lectio Divina’nya pernah menulis ini:

Saya seperti menentang arus yang kuat. Dan dalam perjalanan melawan arus tersebut, semakin saya berjuang, semakin besar kemungkinan saya akan babak belur.

Tapi saya juga bersyukur, karena disadarkan, bahwa selama saya tetap setia, yang terbentang di akhir perjalanan saya adalah Allah sendiri. Dan semua kesengsaraan itu akan sepadan. Lagipula, saya pasti dimampukan untuk terus konsisten, karena damai sejahtera dari Kristus akan terus menyertai saya, selama saya tetap beriman dan berharap kepada-Nya. Tidak akan ada yg bisa mengambil itu dari saya.

St. Padre Pio mengatakan: Yesus membiarkan pertempuran rohani sebagai ‘pemurnian’ bukan ‘hukuman’. Pencobaan bukan menuju kematian, tetapi kepada keselamatan.

Doa: Terima kasih Tuhan. Engkau tidak pernah meninggalkan kami anak-anak-Mu sendirian. Itulah sukacita kami yang tidak dapat dirampas dari kami. Amin. (VSH)