Ketakutan vs. Damai Sejahtera

Renungan Minggu 31 Mei 2020 Hari Raya Pentakosta

Bacaan: Kis. 2:1-11Mzm. 104: 1ab, 24ac, 29bc-30, 31, 341Kor. 12:3b-7,12-13Yoh. 20:19-23

Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.” (Yohanes 20:22)

Waktu kecil saya belum tahu tentang Roh Kudus, tetapi ketika saya mempunyai kesulitan, saya otomatis akan berdoa, karena dari kecil saya diajari untuk selalu berdoa setiap hari. Namun perasaan takut yang mencekam tetap saya alami ketika sendirian dan memikirkan masa depan saya, hal itulah yang membuat hidup saya penuh kekuatiran. Roh Kudus seakan-akan tidak ada. Mengapa ini bisa terjadi? Karena saya belum menyadari akan kehadiran Roh Kudus yang ada di dalam hidup saya.

Seperti para murid yang penuh ketakutan dan kekuatiran setelah peristiwa penyaliban, dapat berubah 180 derajat setelah peristiwa Pentakosta. Mereka kembali bersatu dan sehati dengan saudara seiman, mereka diteguhkan dan disemangati, sehingga iman mereka dapat bertumbuh dengan pesat. Proses jatuh bangun, saat suka dan duka ketika mengikuti-Nya, bukan hal yang mudah, terutama bagi saya. Setiap hari adalah perjuangan, karena saya mengalaminya hingga sekarang.

Kehadiran Roh Kudus dalam hidup, sangat menolong saya sehingga punya keberanian untuk terus percaya dan mengandalkan-Nya. Saya punya keberanian dalam mewartakan Injil, dengan membagikan pengalaman saya saat hidup bersama-Nya, sehingga ketika mereka mendengar, mereka pun dapat menyadari dan mengalaminya sendiri.

Bapak Ibu yang terkasih, di saat-saat yang tidak menentu ini, saya mengajak kita semua untuk membuka hati, sehingga saat Tuhan Yesus menghembuskan dan berkata “Terimalah Roh Kudus”, kita dapat berkata dengan lantang “Terima kasih Tuhan. Amin.”. Saat Roh Kudus berkuasa dan mengambil alih hidup kita, damai sejahtera, suka cita senantiasa memenuhi kita selalu. Maukah kita hidup kudus, hidup berkenan dan menyenangkan Tuhan saat ini? Syaratnya adalah biarkan Roh Kudus menjadi Raja di hidupmu. Tuhan memberkati. (MY)