Kepo-kah Saya?

Renungan Sabtu 30 Mei 2020

Bacaan: Kis. 28:16-20,30-31Mzm. 11:4,5,7Yoh. 21:20-25

Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau, ikutlah Aku. (Yohanes 21:22)

Zaman sekarang ini kita sering mendengar kata ‘kepo.’ Apa sih ‘kepo’ itu sebenarnya? Kata ini sering digunakan untuk menyebut seseorang yang selalu punya rasa ingin tahu urusan orang lain. Rasa ingin tahu ini sebetulnya bisa menjadi positif, jika digunakan dengan tepat. Karena dapat digunakan untuk menolong orang lain, misalnya dalam hal pengetahuan. Tetapi rasa ingin tahu tersebut juga bisa berdampak negatif, karena hal tersebut dapat mengganggu kenyamanan orang lain.

Pada bacaan Injil hari ini, Yesus mengajarkan kepada saya bahwa Ia tidak pernah memberi jawaban langsung terhadap pertanyaan yang diajukan demi memenuhi rasa ingin tahu seseorang. Yesus memberikan pelajaran atas pertanyaan Petrus yang seakan-akan pertanyaan yang diajukan mengandung makna ingin tahu tentang urusan orang lain alias ‘kepo’. Jawaban Yesus adalah “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau, ikutlah Aku”.

 Kata-kata ‘itu bukan urusanmu’ diulang sampai dua kali dalam perikop ini. Yesus tidak memberikan kepuasan jawaban terhadap rasa ingin tahu Petrus. Yesus hanya mengatakan kepada Petrus untuk mengikuti jejak-Nya. Itulah poin yang penting, yaitu Yesus menekankan pada saya agar saya mengikuti Yesus sesuai dengan kehendak-Nya.

Ikutlah Aku, kata Yesus kepada Petrus. Mengapa ingin tahu urusan orang lain yang bukan menjadi urusanmu?

Kita selayaknya fokus pada urusan kita masing-masing, agar kita dapat menjadi murid Yesus yang benar-benar taat sesuai dengan kehendak-Nya, yaitu dengan cara:

  1. Menjaga kekudusan diri
  2. Meninggalkan dosa
  3. Melakukan tugas perutusan yaitu memberitakan Kabar Gembira Allah

Mengapa kita sering ingin tahu tentang perkara-perkara orang lain? Waktu kita kecil, mungkin sering kali kita ditegur oleh guru di sekolah, karena kita mengurusi pekerjaan teman kita dan melalaikan tugas atau pekerjaan kita sendiri.

Kita sering kali gagal fokus pada panggilan Tuhan karena kita sibuk ingin mengetahui urusan orang lain. Hal itu bisa menjadi celah dosa bagi kita. Dengan ingin mengetahui urusan orang lain, akhirnya kita merasa lebih mengetahui tentang orang tersebut. Kemudian ada dorongan hati untuk menjadi orang yang pertama mengetahui sesuatu tentang orang lain, dan di sini celah dosa mulai terkuak lebih lebar. Singkat cerita, kita bisa menjadi penyebar gosip, bahkan tak jarang dari satu kalimat bisa menjadi ratusan kalimat untuk membuat orang lain menjadi percaya dan kebenarannya sudah tak dapat teruji lagi. Karena banyaknya ‘bumbu-bumbu’ yang meyakinkan di sana.

Refleksi diri:

Inikah saya? Sadarkah saya melakukan hal ini terhadap saudara saya? Apakah saya punya talenta meyakinkan orang dengan cerita yang saya ceritakan dengan mimik yang meyakinkan dan tanpa sadar saya menambahkan bumbu-bumbu manis di dalamnya?

Media sosial bisa menjadi salah satu contoh lain di mana sebenarnya kita ingin mengetahui urusan orang lain, misalnya dengan melihat status yang terpasang dan akhirnya kita pun menjadi ‘kepo’ dan membanding-bandingkan, baik dengan diri kita sendiri atau pun dengan orang lain.

Salah satu jalan kerendahan hati yang diajarkan oleh Santa Teresa adalah:

  • Urusilah diri persoalan pribadi
  • Hindari rasa ingin tahu
  • Janganlah mencampuri urusan orang lain

Marilah kita mohon pertolongan Roh Kudus agar memampukan kita menjadi pewarta dan saksi dari cinta kasih-Nya.

Doa: Ya Yesus, terima kasih untuk Firman-Mu hari ini. Ampuni segala ketidakmampuanku. Bantu aku Tuhan, agar aku dapat lebih fokus untuk mengikuti-Mu dan tidak mempunyai rasa ingin tahu akan urusan orang lain. Berikanlah aku hati yang berhikmat dan bijaksana dalam menjalani hidup ini. Aku mohon curahkanlah Roh Kudus-Mu agar memampukanku untuk bersikap rendah hati seperti yang diajarkan oleh Bunda Teresa dan menjadikanku sebagai murid-Mu yang setia dan taat sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.

Kasih dan berkat Tuhan menyertai kita semua. (VR)