Dipilih Menjadi Utusan

Renungan Harian Kamis 7 Mei 2020

Bacaan: Kis. 13:13-25Mzm. 89:2-3,21-22,25,27Yoh. 13:16-20

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku. (Yohanes 13:20)

Dalam sebuah film yang bertema perang, dikisahkan dua orang prajurit dipilih oleh komandan/pimpinan markasnya sebagai utusan untuk menyampaikan pesan penting ke pemimpin regu di garis depan. Pesan ini harus sampai sebelum senja (kurang dari satu hari), bila lewat dari waktu yang ditentukan, akan timbul banyak korban dari pihak mereka. Berbekal lokasi garis depan dan senjata untuk pertahanan diri mereka berangkat pagi-pagi, tidak ada alat transportasi, mereka jalan kaki melintasi medan pertempuran dengan risiko menjadi korban perang karena tertembak atau terkena bom. Di tengah perjalanan satu orang utusan terbunuh oleh musuh, tinggal satu orang utusan. Dengan susah payah mengatasi segala rintangan dia berusaha sekuat tenaga melanjutkan perjalanan menyelesaikan tugas kewajibannya, meski melewati waktu yang ditentukan, akhirnya pesan sampai dan diterima pimpinan di garis depan. Meski sempat jatuh korban namun sebagian besar anggota pasukan dapat terselamatkan.  Harapan kuat untuk mencapai tujuan besar mengalahkan kepentingan pribadi, meski nyawa menjadi taruhannya.

Hari ini Yesus juga mengajarkan kepada kita bagaimana Dirinya juga dipilih Allah Bapa menjadi utusan melaksanakan kehendak Bapa untuk menyelamatkan umat manusia dengan turun ke bumi sebagai manusia. Allah Bapa tentu punya pertimbangan khusus (sebagaimana komandan markas menentukan prajurit sebagai utusan penting, pasti tidak asal pilih), dengan mengutus Putra-Nya sendiri turun ke dunia dengan konsekuensi menghadapi segala risiko dari yang ringan hingga yang berat mengancam jiwa.

Pesan Yesus hari ini disampaikan menjelang saat sengsara dan wafat-Nya. Yesus tahu bahwa setelah wafat, kebangkitan dan naik ke surga, Dia tidak dapat lagi mendampingi dan membimbing umat-Nya secara kasat mata, maka perlu dipilih utusan untuk melanjutkan karya dan teladan Yesus agar umat manusia tidak jatuh lagi ke dalam dosa dan kesalahan yang membinasakan.

Kita semua yang telah dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, adalah pilihan Allah, untuk menjadi utusan mewartakan kabar sukacita, membagi kasih kepada sesama sebagaimana yang Yesus lakukan kepada kita, agar semakin banyak orang dapat diselamatkan.

Sebagai utusan yang mengemban tugas besar, tentunya kita akan berusaha melaksanakan kewajiban itu dengan sepenuh hati, agar sesama kita yang menerima kabar sukacita atau perbuatan kasih yang kita berikan, dapat merasakan kehadiran Tuhan sendiri dan percaya bahwa kita adalah anak-anak-Nya. Dengan menerima kita, yang adalah anak-anak Allah, berarti  menerima Yesus Putra-Nya, dan juga menerima Allah Bapa sang pencipta yang mengutus Putra-Nya.

Sudahkah kita menjalankan tugas perutusan kita sesuai dengan kehendak Bapa? Sudahkah kita berbuat seperti Yesus telah berbuat kepada kita? Seberapa besar usaha kita untuk ikut serta menyelamatkan sesama kita?

Doa: Allah Bapa yang maha baik dan penuh kasih, kami mohon rahmat dan kekuatan-Mu untuk menyadari tugas perutusan yang Engkau berikan. Arahkan langkah kami untuk taat dan setia melaksanakan amanat-Mu, meski godaan dan halangan menghadang kami. Engkau telah memilih kami dan memberkati kami, maka Engkau pun akan memampukan dan menolong kami menghadapi segala kesulitan. Sebagaimana janji-Mu yang kami imani bahwa Engkau akan menyertai kami sampai akhir zaman. Engkaulah Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin. (CEI)