Tetap Semangat

Renungan Senin 6 April 2020

Bacaan: Yes. 42:1-7Mzm. 27:1,2,3,13-14Yoh. 12:1-11

Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. (Yesaya 43:3)

Sudah sebulan yang lalu COVID-19 masuk Indonesia. Ada sekian ribu orang yang terserang baik yang positif, orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP) maupun yang meninggal. Mendengar pandemi ini awalnya ada perasaan takut, cemas dan khawatir tertular. Ingin belanja takut, ke rumah sakit cemas, kegiatan di luar rumah merasa khawatir tertular. Namun syukur kepada Allah, pemerintah Indonesia mengambil kebijakan bahwa untuk menghindari dan mencegah tertularnya COVID-19, seluruh masyarakat harus tetap tinggal di rumah, tetapi harus tetap waspada, menjaga kesehatan dan kegiatan belajar, bekerja dan seterusnya tetap dilakukan di dalam rumah. Dengan kebijakan ini masyarakat mulai semangat kembali, meskipun gerak aktivitasnya dibatasi.

Dalam situasi dan kondisi seperti ini, dan  dalam masa mengenangkan sengsara Tuhan Yesus, melalui Yesaya, Allah memberi semangat bagi kita untuk tetap berharap dan percaya pada-Nya “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum (Yesaya 42:3).

Berkaitan dengan sabda Allah dalam Yesaya, ada tiga peristiwa dalam Injil hari ini.

Pertama: adanya semangat baru dalam keluarga Maria di mana saudaranya yang bernama Lazarus telah dibangkitkan Tuhan Yesus dari antara  orang mati. Semula ada kesedihan atas kematian Lazarus tetapi buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya. Kebangkitannya membawa sukacita dan semangat dalam keluarga ini yang diungkapkan dengan mengadakan perjamuan untuk Tuhan Yesus.

Kedua: sebagai ungkapan kasih dan syukur, dengan rendah hati Maria meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu murni dan menyekanya dengan rambutnya. Dalam situasi pandemi COVID-19, Tuhan mengingatkan kita untuk tidak mengasihani diri sendiri tetapi kita diajak untuk lebih mengasihi Tuhan, bersyukur, tetap berdoa, dan berharap pada belas kasih-Nya agar pandemi ini segera berlalu.

Ketiga: dalam situasi sekarang ini masih ada sebagian orang yang menghalangi atau ingin menggagalkan kebijakan pemerintah yang seolah-olah memberi jalan keluar yang baik padahal mempunyai rencana jahat seperti yang dilakukan Yudas Iskariot, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar, dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin? Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya,(Yoh. 12:5-6). Selain hal tersebut di atas, imam-imam kepala takut kehilangan pengaruh karena banyak orang yang percaya kepada Yesus. “Lalu imam-imam kepala bermufakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dialah banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus. (Yoh. 12:10-11).

Belajar dari perbuatan Maria yang sangat berharga, kita diajak untuk refleksi sejauh mana kita meninggalkan egoisme kemudian mengarah mengasihi Tuhan Yesus. Sejauh mana kita mengasihi sesama dan mewartakan kebaikan Tuhan serta melawan CVID-19 dengan doa dan berharap pada-Nya agar kita dibebaskan. “Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa. (Yes. 42:6). 

Syukur dan terima kasih Tuhan Yesus, kami boleh belajar dari Maria yang dengan hati mempersembahkan yang terbaik bagi Engkau. Ini kami Tuhan, kami tetap semangat untuk Engkau pakai sebagai alat-Mu dalam menyelamatkan sesama kami sesuai dengan kehendak-Mu. Amin. (ECMW)