Sapaan Yesus

Renungan Sabtu 4 April 2020

Bacaan: Yeh. 37:21-28; Yer. 31:10,11-12ab,13; Yoh. 11:45-56

…dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. (Yohanes 11:52)

Nubuatan Yehezkiel di bacaan pertama mengingatkan kita pada saat bangsa Israel dalam pembuangan. Mereka kehilangan harapan untuk kembali ke Yerusalem, putus asa karena Yerusalem sudah dihancurkan dan jatuh ke dalam berbagai dosa. Namun karena kasih-Nya, Allah tidak meninggalkan umat Israel. Yehezkiel menubuatkan bahwa Allah akan menghampiri dan mentahirkan mereka. Akan terjadi pemulihan atas bangsa tersebut.

Kita bisa membayangkan betapa menderita hidup dalam pembuangan. Waktu itu mereka harus mengganti nama dan ada berbagai peraturan lain dari penguasa Babel yang membelenggu kehidupan orang Israel. Kebebasan sudah tidak ada lagi. Beban bertambah berat karena mereka hidup hidup dalam dosa menjauh dari Allah, tidak ada lagi pegangan iman dan pengharapan mereka.

Memang akhirnya orang Israel kembali ke Yerusalem di saat pemerintahan Raja Persia. Namun bukan berarti mereka mengalami kebebasan sepenuhnya. Dalam Injil hari ini, ternyata dengan berjalannya waktu, mereka masih terbelenggu, masih buta akan kehadiran Allah yang menyelamatkan yang hadir dalam diri Yesus.

Kita saat ini sedikit mengalami perasaan orang Israel, di tengah situasi yang serba terbatas. Kita menanti-nantikan kebebasan, saat bisa hadir di gereja saat Misa Kudus – apalagi besok kita merayakan Minggu Palem, saat bisa bekerja dan keluar rumah, hang-out dengan keluarga dan sahabat. Ibaratnya seperti orang Israel rindu untuk segera bebas dari Babel.

Kita bersyukur punya Allah yang setia, sifat-Nya sama dengan dahulu waktu Ia menghampiri bangsa Israel yang terpuruk. Injil hari ini mengatakan bahwa Yesus mati bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Yesus mengumpulkan kita untuk sama-sama berdoa, berkorban dengan cara masing-masing, mengikuti teladan-Nya. Saat ini pun Ia datang menjemput kita dari tengah keputusasaan, ketakutan, kekhawatiran dan mempersatukan serta menjaga anak-anak-Nya seperti Gembala Yang Baik.

Mari kita berusaha mengenali sapaan-Nya di tengah keterbatasan saat ini. Saya berusaha mengenali sapaan-Nya lewat kegigihan dan pengorbanan para petugas medis yang berjuang tanpa henti. Lewat para Imam dan sie komsos yang setia mempersiapkan Misa Online. Lewat para pemimpin bangsa ini terutama Presiden Jokowi yang tanpa kenal lelah terus berkoordinasi menghadapi situasi yang terus berubah. Lewat teman-teman yang diam di rumah meski sudah sangat bosan dan jenuh.

Mari kita berusaha mengenali sapaan-Nya di tengah aktivitas sehari-hari. Lalu mendekat dan sapalah sesama, orang di rumah, rekan kerja dan komunitas dengan semangat Paskah. Dalam Yesus yang mati dan bangkit ada pengharapan pemenuhan janji Bapa. Jangan mau dibutakan oleh situasi yang menjauhkan kita dari Tuhan dan mendekatkan kita pada kekhawatiran dunia. Amin. (ARFW)