Roti Hidup

Renungan Kamis 30 April 2020

Bacaan: Kis. 8:26-40Mzm. 66:8-9,16-17,20Yoh. 6:44-51

Akulah roti hidup. (Yohanes 6:48)

Setelah dibaptis pada saat usia remaja, saya tidak merasakan iman saya bertumbuh, semuanya berjalan biasa saja. Ke gereja tetap dengan terpaksa, sebatas menjalankan kewajiban, tidak mengikuti komunitas rohani, berdoa juga seingatnya saja. Saya percaya Tuhan itu ada, tetapi Dia jauh di surga sana. Mengenai hosti yang saya terima, entahlah, saya tidak yakin itu Tubuh dan Darah Kristus, karena saya tidak merasakan kehadiran Tuhan.

Berjalannya waktu, pertolongan Tuhan semakin nyata, sampai saya memutuskan untuk lebih serius mengenal Tuhan yaitu dengan masuk Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP), dan baru di sinilah saya belajar membaca Kitab Suci. Luar biasa, seperti ada selubung yang tersingkap dari mata saya. Ayat-ayat Kitab Suci yang dulu terasa membosankan kini dapat “berbicara“ menyentuh hati. Ternyata seperti itulah yang terjadi jika sudah bertemu dengan Yesus yang benar-benar hidup. Seperti yang dialami Filipus dan sida-sida Etiopia dalam bacaan pertama.

Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada Bapa jika bukan ditarik oleh Bapa. Sungguh iman adalah suatu kasih karunia yang harus dipelihara dan dikembangkan karena pengenalan akan Tuhan tidak pernah habis. Bukan kehebatan otak kalau sekarang dapat memahami firman Tuhan, bukan kekuatan diri sendiri kalau mampu berpengharapan dalam setiap persoalan. Karena kita telah makan “Roti Hidup”, maka hidup kita tidak akan biasa-biasa saja melainkan menjadi suatu kehidupan yang luar biasa, yang dapat kita bagikan untuk mereka yang letih, lesu, berbeban berat, karena belum mengenal Yesus “Sang Roti Hidup”.

Meskipun hari-hari ini  keadaan serba terbatas dan belum bisa menerima Sakramen Ekaristi, janganlah sampai merasa jauh dari Tuhan ,tetap semangat Saudaraku, Yesus Kristus selalu menyertai kita dalam segala keadaan kini dan sepanjang masa, karena Dia tinggal bersama dalam hidup kita ini. Tuhan memberkati. (VLD)