Misteri Iman

Renungan Selasa 21 April 2020

Bacaan: Kis. 4:32-37Mzm. 93:1ab,1c-2,5Yoh. 3:7-15

Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh. (Yohanes 3:7-8)

Nikodemus adalah salah seorang pemimpin agama Yahudi yang berkedudukan tinggi dan berpengetahuan luas tetapi ia tetap mengalami kesulitan mencerna kata-kata Tuhan Yesus ketika ia menjumpai-Nya di malam yang gelap. Kata-kata pengajaran “dilahirkan kembali” baginya tetap sebuah misteri. Bagaimana hal itu mungkin terjadi?

Seperti Nikodemus, saya juga sering mengalami betapa sulitnya untuk mengerti pengajaran tentang iman Katolik. Mendengar khotbah Romo kadang banyak hal yang sulit dipahami. Membaca Kitab Suci pun sama halnya, sehingga perlu membaca buku-buku referensi, mencari di internet atau yang lainnya untuk bisa lebih memahami maksudnya. Ternyata tidak cukup bermodalkan akal dan pikiran saja untuk memahami sabda Yesus, melainkan perlu keterbukaan hati, pikiran dan jiwa. Membutuhkan adanya kerelaan dan kepasrahan agar iman dan hidup kita selalu diperbaharui oleh Roh Allah. Saya jadi ingat penggalan lagu Tantum Ergo (PS 558;559). “Karna indera tidak mampu, iman jadi tumpuan.”

Dilahirkan kembali bukan dalam arti jasmaniah, tetapi rohaniah yaitu dibaptis dengan air dan Roh. Dengan demikian ia menjadi manusia baru yang hidupnya terbuka untuk dipimpin oleh Roh. “Semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah,”(Rom. 8:14). Dan jika kita diangkat sebagai anak Allah maka kita akan menjadi ahli waris kerajaan Allah. Dilahirkan kembali dalam Roh berarti menerima dan mengimani bahwa Yesus Kristus adalah Sang Juru Selamat manusia. Ia rela menderita sengsara dan wafat disalibkan demi menebus dosa-dosa kita manusia dan pada hari ketiga Ia bangkit. Inilah misteri iman Katolik yang selalu kita perbarui dalam setiap perayaan Ekaristi. Barangsiapa yang percaya dan mengimani Kristus, ia akan beroleh hidup kekal. Demikian pula dalam Ibadat Jumat Agung, salib Kristus ditinggikan, dicium, disembah dan dimuliakan (Meskipun Ibadat Jumat Agung tahun 2020 ini kita cukup merayakannya dari rumah dengan live streaming karena wabah COVID-19). “Seperti Musa telah meninggikan ular tembaga di atas tiang di padang gurun demi menyelamatkan bangsa Yahudi yang dipagut ular agar tetap hidup (Bil. 21:4-9), Yesus menegaskan bahwa Anak Manusia harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup kekal.

Untuk mengimani “misteri iman” ini diperlukan adanya pertobatan, kematian bagi dirinya sendiri, dan niat yang kuat agar hidupnya dipimpin oleh Roh. Roh yang berasal dari Allah dan menuju kepada Allah. Contoh nyata yang patut kita teladani, bagaimana manusia telah dilahirkan kembali dan hidupnya digerakkan oleh Roh adalah cara hidup Jemaat Perdana (Kis. 4:32-37).

Dalam situasi sulit yang dialami dunia karena adanya pandemi COVID-19 ini kita bisa meneladan cara hidup mereka dengan:

  1. Membagikan sebagian harta milik kita untuk membantu lewat saluran resmi atau pun secara pribadi.
  2. Menaati anjuran dan aturan pemerintah seperti tinggal di rumah, cuci tangan, olah raga, memakai masker, dll.
  3. Tidak perlu takut atau panik, tetap yakin bahwa badai pasti akan berlalu.
  4. Berdoa mohon penyertaan Allah untuk semua pihak yang terlibat dalam penanggulangan virus ini, untuk pasien dan keluarganya.
  5. Hidup rukun dan saling membantu dalam kasih karunia.

Doa: Bapa, terima kasih atas penyertaan-Mu yang penuh kasih dalam hidup kami. Jagailah kami selalu agar tak jatuh ke dalam pencobaan sehingga mampu melaksanakan kehendak-Mu. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin. (MYM)