Mengucap Syukur dan Berbagi

Renungan Jumat 24 April 2020

Bacaan: Kis. 5:34-42Mzm. 27:1,4,13-14Yoh. 6:1-15

Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. (Yohanes 6:11)

Injil hari ini meneguhkan bahwa Tuhan berkarya dalam segala situasi. Dalam Injil tersebut diceritakan bahwa Filipus dan Andreas merasa tidak mungkin dapat memenuhi permintaan Yesus untuk memberi makan orang banyak yang hadir di sana.

Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (Yoh. 6:8-9)

Sekalipun kata-kata Andreas tersebut menunjukkan keraguannya namun tindakannya membawa anak itu kepada Yesus menunjukkan sedikit pengharapan bahwa Yesus akan berbuat sesuatu. Kemudian Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya (Yoh. 6:11).

Pada peristiwa tersebut Yesus mengajarkan beberapa hal antara lain:

  1. Kepekaan dan kepedulian kepada sesama (Yoh. 6:5).

Ia tak membiarkan orang-orang yang datang kepada-Nya pergi dengan kelaparan. Saat ini pun Yesus mengajak kita untuk peka dan peduli kepada sesama terutama yang sedang mengalami kesulitan. Dalam situasi sekarang ini banyak orang yang kehilangan sumber penghasilan atau penghasilannya berkurang karena dirumahkan sehubungan dengan pandemi Covid-19. Begitu juga panti-panti yang tidak lagi mendapatkan kunjungan sosial, atau rumah-rumah retret yang juga mengalami hal yang sama. Sehingga banyak yang berusaha mencari alternatif  usaha dengan menawarkan produk-produk melalui media sosial.

  1. Mengucap syukur (Yoh. 6:11).

Yesus memberi contoh untuk selalu mengucap syukur. Mengucap syukur dalam segala hal, baik senang maupun susah, baik ketika mendapat berkat maupun mengalami masalah. Mengucap syukur kepada Tuhan berarti bahwa sekalipun kita mengalami keadaan yang buruk, Dia pasti akan menolong dan menunjukkan kebaikan-Nya kepada kita. Keadaan yang buruk tidak akan menghentikan mulut kita untuk mengucap syukur kepada-Nya. Mengucap syukur berarti saya menerima dan percaya apa yang sudah dirancang Tuhan bagi saya dalam hidup adalah yang terbaik.

  1. Berbagi dengan apa yang ada (Yoh. 6:9).

Mukjizat yang Yesus lakukan dimulai dari apa yang ada pada mereka (5 roti dan 2 ikan) yang dengan tulus diberikan oleh seorang anak kecil. Maka hendaklah kita juga mulai dengan bersyukur atas apa yang kita punya dan dengan niat yang tulus, maka Tuhan yang akan mencukupkan dan memampukan kita untuk berbagi.

Ketika mengamati berbagai media sosial saat ini, selain dipenuhi berita-berita dan berbagai penawaran produk-produk, sungguh melegakan hati bahwa masih banyak orang yang peduli dan mengasihi sesama. Dalam berbagai kelompok/komunitas ternyata banyak orang yang mau membantu dan berbagi. Baik membantu perekonomian sesama dengan membeli produk-produk yang ditawarkan, maupun berbagi dengan mengirimkan perlengkapan yang dibutuhkan oleh tenaga medis, membagikan paket-paket sembako bagi warga sekitar yang membutuhkan, berbagi makanan kepada abang gojek dan lain-lain.

Bahkan ada yang membeli produk hanya dengan niat untuk membantu saja dan kemudian dibagikan kepada sesama yang lain, karena ia sendiri sesungguhnya kurang membutuhkan produk tersebut.

Mari mengucap syukur atas apa yang ada, bersyukur atas kesehatan, bersyukur atas keluarga kita, bersyukur bisa mengikuti misa live streaming, dan berbagi apa yang kita bisa.

Doa: Tuhan, berikanlah kami iman yang teguh dan pengharapan yang kuat karena kami yakin bahwa Engkau selalu menyertai kami. Mampukanlah kami untuk selalu mengasihi Engkau maupun sesama kami. Ingatkanlah kami untuk mau berbagi dan selalu mengucap syukur dalam segala hal karena rencana-Mu pasti yang terbaik bagi hidup kami. Berkatilah kami dengan kesehatan yang baik dan perlengkapi kami agar pelayanan kami menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kami. Amin. (ARK)