Ketaatan Yang Menyelamatkan

Renungan Minggu 5 April 2020, HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN

Bacaan: Perarakan Mat. 21:1-11Yes. 50:4-7Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24Flp. 2:6-11Mat. 26:14-27:66 atau Mat. 27:11-54

“…yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:6-8)

Setiap hari Minggu Palma, pada awal misa kita selalu merasakan kegembiraan. Anak-anak, remaja, dan kaum muda merasa senang, sebab Misa Minggu Palma itu berbeda: kita membawa daun palma. Ada yang membawa daun palma dari rumah, ada yang minta teman yang punya, dan tidak sedikit yang mengambil di depan gedung gereja. Ketika upacara mulai, terlihatlah imam mengenakan kasula warna merah, diikuti para petugas liturgi lainnya. Sesudah bacaan Injil dan homili singkat, mulailah perarakan para petugas liturgi dan imam, lalu diikuti umat yang membawa daun palma sambil bernyanyi dan tangan mengayun-ayunkan daun palma. “Hosana bagi Anak Daud! Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan! Hosana di tempat yang maha tinggi!”

Suasana sukacita berubah menjadi suasana lebih sendu dan renungan akan penderitaan Tuhan Yesus mulai mendominasi. Sebuah kisah panjang yang sungguh terasa agung dan khidmat. Ada begitu banyak hal yang dapat kita renungkan. Ada begitu banyak hal yang sungguh dapat diperdalam dan didoakan. Akan tetapi sebaliknya, sejak 19 hari yang lalu hingga Paskah nanti, semuanya menjadi berantakan saat ini, misa di gereja ditiadakan, doa di lingkungan tidak boleh, persiapan panitia Paskah ditunda entah sampai kapan. Setiap hari para imam merayakan Ekaristi tanpa dihadiri umat. Semua ini karena wabah pandemi Covid 19 yang menyerang seluruh dunia, tanpa kecuali Indonesia. Jumlah pasien positif terinfeksi virus corona (COVID 19) di Indonesia, per 1 April 2020 mencapai 1.677 kasus. Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 157 jiwa, dan jumlah yang sembuh 103 orang. (Sumber: CNN Indonesia)

Saat ini  Gereja justru mengajak kita untuk mengikuti misa daring (online) dan lebih banyak kita di rumah melakukan “Work From Home” untuk memutus penyebaran Virus Corona guna menyelamatkan kita dan seluruh dunia. Dalam keadaan ini kita mempunyai banyak waktu serta kesempatan hening dan berdoa, membaca kitab suci serta berkontemplasi di depan salib Tuhan kita Yesus Kristus di rumah masing-masing. Kita diajak untuk taat dan diam di rumah yang merupakan bagian dari puasa dan mati raga dalam Masa Prapaskah.

Marilah kita menunduk sambil bersembah sujud di hadapan salib dan mengimani bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan Yesus yang mampu hadir di hati setiap hati orang yang percaya kepada-Nya.

Marilah kita belajar ketaatan yang menyelamatkan. Kerajaan Allah terwujud ketika orang mau taat kepada Allah sebagai rajanya. Taat di sini adalah soal kerelaan hati, bukan takluk karena dikalahkan, bukan terpaksa karena takut. Karena itulah, untuk membangun Kerajaan Allah yang menyelamatkan, Yesus tidak menunjukkan kuasa dan kekuatan-Nya, namun kerendahan hati dan kesediaan-Nya untuk melayani. Ia tidak naik kuda dengan senjata lengkap sebagai penakluk, melainkan naik keledai, hewan beban yang siap melayani. Untuk merebut hati manusia, Yesus mengosongkan diri, status-Nya yang mulia sebagai Allah, dengan menjadi sesama kita manusia. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Minggu Palma disebut juga Minggu Sengsara karena memulai Pekan Suci yang merupakan puncak hidup dan karya keselamatan Yesus. Mari kita masuki Pekan Suci dengan mengosongkan diri dari hal-hal duniawi, agar dengan mata dan hati terbuka, kita belajar dari Yesus, dari jalan yang ditempuh-Nya, yakni jalan ketaatan kepada Allah, jalan kasih dan pemberian diri tanpa batas. Semoga kita semua diselamatkan dari COVID 19 karena ketaatan kita kepada Yesus satu-satunya juru selamat dunia.

Doa: Ya Tuhan, aku mau merenungkan sengsara-Mu secara istimewa terlebih selama pekan suci ini, dengan rela melepaskan kesombonganku dan belajar untuk lebih rendah hati. Ketaatan dalam hening dan melayani sesama. Semoga wabah COVID 19 cepat berlalu sehingga kita diselamatkan, ekonomi dipulihkan dan dapat kembali mengikuti semua ibadah di gereja secara normal. Amin. (SWK)