Alamak!

Renungan Minggu 19 April 2020, Minggu Paskah II – Hari Minggu Kerahiman Ilahi

Bacaan: Kis. 2:42-47; Mzm. 118:2-4,13-15,22-24; 1Ptr. 1:3-9; Yoh. 20:19-31

Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada. (Yohanes 20:23)

Pengampunan dosa mempunyai keterkaitan dengan hidup kekal, terlebih saat kita membaca dari Yohanes 20:23, seakan-akan kehidupan manusia ditentukan oleh orang lain. Benarkah?Jika kita melihat hanya satu ayat memang sepertinya begitu, tetapi mari kita lihat perkataan Yesus di kedua ayat sebelumnya:“Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Kemudian Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.Suatu anugerah Ilahi yang dilakukan Yesus bagi para rasul – terutama Petrus – yaitu tugas perutusan dengan penyertaan Roh Kudus untuk benar-benar mengampuni dosa-dosa melalui pelayanan mereka. Yesus menghendaki murid-murid-Nya memiliki kuasa besar, bahwa atas nama-Nya melaksanakan apa saja yang telah Ia lakukan sewaktu Ia hidup di dunia.Yesus mempercayakan kepada Petrus wewenang yang khusus:“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan surga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Matius 16:19).“Kuasa kunci-kunci” berarti wewenang untuk memimpin rumah Allah, ialah Gereja. Yesus menegaskan tugas ini sesudah kebangkitan-Nya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.“.

Kristus menghendaki bahwa Gereja secara keseluruhan dalam doanya, dalam kehidupannya dan dalam kegiatannya: adalah tanda dan alat pengampunan dan perdamaian, yang telah Ia peroleh dengan harga darah-Nya. Dalam kehidupan kita sehari-hari Ia mempercayakan pelaksanaan kuasa absolusi ini kepada jabatan apostolik. Kepada mereka dipercayakan “pelayanan pendamaian” yang seolah menjadi gambaran Allah menasihati saya dan Anda di dalam nama Kristus agar memperoleh perdamaian dengan Allah (bdk 2Kor. 5:18-20).

Suatu saat, seorang anak berkata kepada ayahnya bahwa perutnya sakit. Sang ayah berusaha memeriksa perut anak tersebut, dan menanyakan mana yang sakit. Si anak menunjuk perut bagian depan dan berkata “Di sini Papa, sakit kalau ditekan.” ujarnya meringis. “Hmmm… memang kelihatan agak membesar. Apa yang kau lakukan tadi seharian? Apakah kamu ada salah makan? Atau terbentur?” tanya Ayah. “Tidak makan yang salah-salah kok Pa, mungkin tadi ngebut naik sepeda.”, elak anak itu.

Segeralah ayah ini membawa anaknya ke klinik, dan sesampainya di sana dokter pun bertanya hal yang sama. Sambil meringis anak ini tetap berkata bahwa dirinya tidak makan yang aneh-aneh, dan hanya bersepeda. Sang dokter tidak percaya begitu saja, ia mengambil stetoskop dan mendengarkan perut anak itu, krrrr….krrrr….. terdengar suara perut anak itu. “Ahaaa… aku tahu sekarang.”, ujar Dokter. “Kamu pasti banyak meminum soda.”, anak itu pun tertunduk malu, “Iya Om Dokter.” ujarnya. “Hahhh? berapa banyak kamu minum nak???” Ayahnya kaget keheranan. “Aku tadi hanya minum enam botol cola Papa…” ujarnya meringis…. “Alamak!….” sang Papa menepuk dahinya.

Karena kalau orang sakit merasa malu membuka lukanya kepada dokter, maka obat tidak akan menyembuhkan apa yang tidak dikenalnya.’ (St. Hieronimus).

Pengakuan atau penyampaian dosa membebaskan kita dan merintis perdamaian kita dengan orang lain. Melalui pengakuan itu orang melihat dengan jujur dosa-dosanya, bahwa ia orang berdosa; ia menerima tanggung jawab atas dosa-dosanya itu, dengan demikian membuka diri kembali untuk Allah sehingga dimungkinkanlah satu masa depan yang baru.

“Siapa yang mengakukan dosanya, sudah bekerja sama dengan Allah. Allah menggugat dosa-dosamu; kalau engkau juga menggugatnya, engkau bergabung dengan Allah. Manusia dan pendosa seakan-akan harus dibedakan: kalau berbicara tentang manusia, Allahlah yang menciptakannya; kalau berbicara tentang pendosa, manusialah yang menciptakannya. Robohkanlah apa yang telah engkau ciptakan, supaya Allah menyelamatkan, apa yang Ia ciptakan.Kalau engkau mulai jijik akan apa yang engkau ciptakan, mulailah karya-karyamu yang baik, karena engkau menggugat karya-karyamu yang buruk. Pengakuan akan karya-karyamu yang buruk adalah awal karya-karyamu yang baik. Engkau melakukan kebenaran dan datang ke dalam terang.” (St. Agustinus).

Marilah berdoa:

Allah Bapa yang Maha Rahim, tunjukkanlah belaskasih-Mu kepada kami yang berdosa ini. Berilah kami rahmat-Mu agar kami dapat mengakui segala dosa dan dapat memperbaiki diri serta membangun niat untuk hidup kembali ke jalan yang benar dan kudus. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

amdg,vmg