Kepekaan dan Kepedulian

Renungan Kamis 12 Maret 2020

Bacaan: Yer. 17:5-10Mzm. 1:1-2,3,4,6Luk. 16:19-31

Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. (Lukas 16:20-21)

Tuhan Yesus tidak mengingkari fakta bahwa di dunia ini selalu saja ada orang kaya dan orang miskin. Injil hari ini berkisah tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin. Setelah kematian mereka, arwah orang kaya menderita dalam kesengsaraan neraka, sedangkan Lazarus yang  miskin masuk ke dalam kebahagiaan sorga bersama Bapa Abraham.

Berkaitan dengan kisah Injil tersebut, kita dapat mengambil beberapa pelajaran.

Pertama, mengapa Lazarus yang mendapat kebahagiaan sorga, apa yang dilakukannya sehingga berkenan kepada Allah?

Hidup bagi Si Miskin Lazarus adalah bergantung pada uluran tangan orang lain. Ia tidak mempunyai harta untuk menggantungkan dirinya. Ia menaruh harapan dan mempercayakan hidup sepenuhnya hanya kepada belas kasih Allah semata. Meskipun demikian dia dengan rela membiarkan anjing-anjing menjilat boroknya. Maka dapatlah dimengerti mengapa setelah kematiannya Allah mengaruniakan Lazarus kebahagiaan dalam kerajaan-Nya.

Kedua, dosa apakah yang diperbuat oleh si kaya sehingga dia tidak mendapat kebahagiaan sorga? Bukankah dia tidak menyakiti, melukai, atau mengusir Lazarus dari pintu rumahnya? Si Kaya memang tidak kelihatan jahat, tidak ada satu tuduhan pun yang dapat mempersalahkan orang kaya itu. Ia hanya mengejar kenikmatan duniawi, menikmati kekayaan sendiri yang diperolehnya dari hasil jerih payah usahanya tanpa merugikan orang lain. Mungkin menurut pandangannya, kekayaannya menandakan bahwa Allah berkenan kepadanya dan berpikir bahwa Si Miskin Lazarus harus berusaha dan bekerja agar dapat hidup layak seperti dia. Namun dia lupa bahwa kadang orang menjadi miskin bukan karena malas bekerja, tetapi karena memang tidak dimungkinkan untuk dapat bekerja dengan layak. Sering juga terjadi bahwa karena keserakahan orang-orang kaya dalam perebutan kue kehidupan, dan kebijaksanaan yang keliru dari penguasa jabatan, terpaksa Si Miskin terdesak kehidupannya. Demikianlah dosa Si Kaya jelas bahwa dia tidak peka terhadap kebutuhan Si Miskin yang ada di depan pintunya. Ia tidak mempunyai kepedulian. Hidupnya hanya berpusat pada diri sendiri. Bukankah sebenarnya dia lebih mempunyai kesempatan untuk berbuat kasih dan dapat melakukan tindakan memuliakan Allah dengan kelebihan kekayaannya?

Di sini Tuhan Yesus mengingatkan bahwa Allah telah mengutus banyak nabi untuk pentingnya hidup baik dan benar di dunia ini agar nantinya dinilai-Nya layak ikut dalam kebahagiaan kerajaan-Nya. Bukan soal kaya atau miskin yang membuat orang selamat atau tidak selamat, tetapi sikap dan perbuatannya.  Masih berpusat pada diri sendiri? Atau dengan kasih menjadi berkat bagi sesama meskipun dalam keterbatasan? Bagaimana dengan sikap dan perbuatan kita sebagai murid-murid Kristus?

Doa: Tuhan Yesus yang Maha Pengasih, ingatkanlah aku agar melihat bahwa harta duniawi adalah semata sarana hidup untuk melaksanakan kehendak-Mu bukan justru menjadi hambatan untuk mendekat kepada-Mu. Aku mohon Tuhan berilah aku kepekaan dan kepedulian melihat sesama dan ajarilah aku dalam mengambil sikap tidak berpusat pada diri sendiri dan berani berbagi kasih dengan benar bila aku dalam kedudukanku sebagai Si Kaya atau sekalipun dalam kedudukanku sebagai Lazarus.  Amin. (LKME)