Kepribadian Seseorang Ada Dalam Ucapannya

Renungan Harian Rabu 19 Februari 2020

Bacaan: Yak. 1:19-27Mzm. 15:2-3ab,3cd-4ab,5Mrk. 8:22-26

Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. (Yak. 1:26)

Saya mempunyai seorang teman dekat, orangnya baik, humoris, gaya bicaranya ceplas ceplos, nada suaranya cukup tinggi, kadang keluar kata-kata kasar/jorok. Ibadahnya sering lewat waktu, puasa wajib juga sering absen. Setahun terakhir terjadi perubahan besar, teman saya menjadi tekun sembahyang, tidak pernah absen, bahkan ibadah yang tidak wajib juga dilaksanakan, puasanya rutin. Saya sangat bersyukur dan sukacita karena teman saya telah bertobat. Meski ibadahnya menjadi baik, namun kata-kata kasar yang biasa diucapkan masih terdengar.

Saya pun mempunyai pengalaman yang sama, sering lepas kontrol dalam berbicara, meski bukan kata-kata kasar yang keluar, tapi cukup melukai yang mendengarnya.

Pesan Santo Yakobus dalam bacaan hari ini, sungguh menjadi cambuk yang melecut saya untuk dapat mengendalikan diri, mengekang lidah dan mengatur kata-kata, lebih banyak mendengar dan tidak mudah terpancing emosi saat menghadapi masalah.

Lidah meskipun kecil berperan penting dalam menentukan pribadi seseorang. Dengan lidah seseorang bisa memuji Tuhan, mengeluarkan kata-kata indah yang meneguhkan, memberkati, bahkan menghidupkan semangat yang padam.

Namun sebaliknya, dengan lidah seseorang juga bisa mengeluarkan kata-kata makian, marah, menyakitkan hati, tipuan, mematikan semangat bahkan membunuh orang lain, karena saat ini dirinya dikuasai kegelapan, hatinya tertutup terhadap rahmat Tuhan, sehingga tidak melihat sesama sebagai makhluk mulia yang diciptakan menurut rupa Allah, yang memiliki harkat dan martabat sama di hadapan Tuhan.

Pada keadaan ini kita seperti orang buta yang membutuhkan jamahan Tuhan agar dapat melihat kembali. Tuhan yang maha baik dan setia menunggu kita datang kepada-Nya, datang dengan kerendahan dan keterbukaan hati serta menyadari kelemahan diri untuk memohon belas kasih-Nya agar berkenan menarik tangan kita keluar dari kuasa kegelapan, dan percaya penuh bahwa Tuhan berkuasa menyembuhkan kita.

Perbuatan kita untuk datang dan memohon kepada Tuhan menunjukkan iman kita, di mana ada iman di situ ada mukjizat, kesembuhan dan keselamatan. Seringkali sikap kita sendiri yang  menghalangi keefektifan berkat dan karya Tuhan dalam diri kita. Mari kita lebih terbuka kepada Allah, supaya setiap kali kita datang kepada-Nya, kita pulang menjadi berkat bagi sesama.  

Doa: Allah Tritunggal yang maha baik dan penuh kasih, kami mohon rahmat-Mu untuk menyadari kelemahan dan kekurangan kami. Arahkan langkah kami untuk setia datang kepada-Mu dengan segala kerendahan dan keterbukaan hati, menyerahkan segala pergumulan hidup kami dalam kuasa tangan-Mu, karena Engkaulah andalan kami. Mampukan kami melawan kuasa iblis yang senantiasa menggoda dalam segala sisi kehidupan kami, agar kami tidak jatuh kembali ke dalam dosa. Berkati mulut dan lidah serta perilaku kami agar senantiasa memuliakan nama-Mu dan boleh menjadi berkat bagi sesama. Engkaulah Tuhan, harapan, kekuatan dan Juru Selamat kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin. (CEI)