Imanmu Menyelamatkanmu

Renungan Selasa 4 Februari 2020

Bacaan: 2Sam. 18:9-10,14b,24-25a,30-19:3; Mzm. 86:1-2,3-4,5-6; Mrk. 5:21-43

Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” (Markus 5:34)

Injil hari ini menceritakan dua peristiwa mukjizat yang dilakukan Yesus. Pertama adalah Yesus menyembuhkan wanita yang sakit pendarahan dan kedua Yesus membangkitkan anak Yairus dari kematian. Dalam dua peristiwa itu kita bisa mengetahui ada dua peristiwa iman yang berbeda pelakunya. Yang pertama adalah iman yang dimiliki oleh wanita yang mengalami penderitaan dan iman yang dimiliki oleh Yairus. Tetapi dari dua orang yang berbeda itu ada satu kesamaan yaitu iman yang teguh bahwa Yesus mampu memberi mukjizat bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

Iman perempuan yang mengalami pendarahan meskipun Yesus dikelilingi oleh banyak orang dia berusaha sekuat tenaga menjamah jubah-Nya. Yairus meskipun ditertawakan oleh orang-orang yang telah mengetahui bahwa anaknya telah meninggal tetapi tetap berpengharapan kepada Yesus, Keduanya memperoleh mukjizat kesembuhan untuk perempuan tersebut dan kebangkitan untuk anak Yairus.

Hari ini saya merasa diteguhkan dengan firman ini. Kita mungkin memiliki iman yang kuat terhadap Yesus seperti perempuan yang mengalami pendarahan dan berusaha memegang jubah-Nya dan kesembuhan terjadi, tetapi dalam suatu saat, kita bisa jatuh sendirian di padang gurun kehidupan. Kita mungkin tidak akan mampu keluar tanpa bantuan orang lain. Seperti anak Yairus yang sudah meninggal apabila dia tidak memiliki ayah dan ibunya yang berusaha mencari Yesus sejak dia sakit, dia tidak mungkin akan bisa bertemu dan dihidupkan oleh Yesus.

Ketika saya mengalami sakit di tahun 2015 hingga 2018 bagaimana saya menemukan wajah Yesus melalui kehadiran orang-orang lain. Saat saya dirawat selama satu bulan di Singapura, saya tidak mungkin mampu menyambut Ekaristi, saya tidak mungkin mampu menyentuh jubah Yesus dengan usaha saya sendiri. Namun melalui komunitas, pelayanan sesama dan para romo, saya mengalami banyak penghiburan, di mana hampir tiap hari saya dijenguk orang dari berbagai macam golongan yang pada awalnya saya mengira saya akan lebih banyak sendiri ketika saya dirawat jauh dari rumah. Juga pelayanan dari para romo dalam memberikan saya Sakramen Perminyakan dan juga pelayanan pemberian Komuni secara teratur membuat saya menjadi dikuatkan dan semakin tumbuh iman saya.

Hidup dalam komunitas rohani pasti akan menguatkan kita, untuk saling menjaga dan saling mendoakan kita semua. Saat saya merenungkan bacaan hari ini saya membayangkan andaikata saya sebagai anak Yairus yang telah meninggal dan tidak sempat bertemu dengan Yesus. Saya percaya melalui doa dari keluarga kita, doa dari teman-teman kita dalam komunitas, akan membantu saya dalam proses penyucian diri saya.

Marilah kita berdoa: Ya Bapa yang Maha Pengasih dan Penyayang, kami tahu kasih-Mu terhadap kami tidak terkira. Kami bersyukur hari ini Engkau melalui Putra-Mu mengingatkan kami agar kami tidak lepas sendiri, meskipun kadang kami merasa mampu. Kau ingatkan kami untuk selalu bersama sama, kami selalu melayani sesama kami baik melalui kunjungan dan doa bagi yang membutuhkan. Hari ini pula kami Kau ingatkan untuk selalu mendoakan arwah-arwah di api penyucian agar mereka Engkau perkenankan melalui kerahiman-Mu, Engkau hantar mereka menuju ke Surga. Amin. (AlX)