Ikutlah Aku

Renungan Sabtu 29 Februari 2020

Bacaan: Yes. 58:9b-14Mzm. 86:1-2,3-4,5-6Luk. 5:27-32

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. (Luk. 5: 27-28)

Firman Tuhan hari ini menceritakan Tuhan Yesus memanggil dan mengajak Lewi (Matius) untuk mengikuti-Nya. Lewi berdiri, meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus. Ia menyambut panggilan dan ajakan Tuhan dengan penuh sukacita. Bahkan Lewi tidak bertanya; hendak dibawa ke manakah dirinya.

Mungkin bagi banyak orang, tampaknya keputusan Lewi ini sangat bodoh. Sebagai pemungut cukai, tentu hidupnya sangat enak. Ia memiliki banyak uang. Sedangkan untuk mengikuti Yesus dan menjadi murid-Nya, ia harus meninggalkan semua kenyamanan itu. Tetapi bagi Lewi, mengikuti Yesus jauh lebih berharga dari pada mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Ia percaya dengan mengikuti Yesus, ia pasti akan mendapatkan arah hidup yang lebih baik.

Dan ajakan Tuhan Yesus “ikutlah Aku!” kepada Lewi, mengingatkan saya kembali akan kasih-Nya yang begitu besar kepada diri saya. Meskipun berbeda dengan Lewi yang menanggapi ajakan-Nya dengan cepat dan penuh sukacita, sedangkan saya amat lambat menanggapi-Nya, namun Tuhan Yesus tak pernah berhenti mengajak saya untuk bersedia mengikuti-Nya.

Bila sejenak menengok ke belakang, sebenarnya Tuhan Yesus telah mengajak saya untuk mengikuti-Nya ketika pemilik perusahaan di mana saya bekerja memindahtugaskan saya sekeluarga dari Jakarta ke Surabaya. Di Surabaya, selain mengurus perusahaan, dengan posisi jabatan yang diberikan kepada saya, saya diberi tugas mengatur penyelenggaraan Persekutuan Doa Oikumene setiap bulan dan Retret Perusahaan bagi seluruh karyawan Kristiani.

Melalui PDO dan Retret ini, oleh banyak para sahabat karyawan yang berserah penuh dan juga oleh para pembawa Firman, pemuji, pendoa yang melayani-Nya dengan tulus, saya didorongnya untuk percaya dan berelasi dengan diri-Nya. Tanpa terasa, tutur kata, perbuatan dan sikap hidup mereka, mulai mendorong saya mencari diri-Nya untuk mengenal-Nya lebih mendalam.  

Meskipun saya banyak keraguan dan lambat mengikuti panggilan-Nya, namun oleh karena kasih-Nya, Tuhan Yesus Kristus terus memproses hidup saya. Sembilan tahun sesudah saya tinggal di Surabaya, lewat seorang sahabat, Ia menarik saya untuk terlibat dalam kegiatan Persekutuan Doa Pembaruan Karismatik Katolik (PDPKK) di wilayah dan kemudian masuk bergabung di Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP). Di SEP inilah, Ia memperbolehkan saya mengalami kasih dan kuasa-Nya, Ia membarui hidup saya dan menumbuhkan iman saya melalui berelasi secara pribadi dengan diri-Nya setiap hari. Melalui SEP inilah, Ia menarik saya semakin dalam untuk mengikuti-Nya, senantiasa melekat dan bersandar penuh hanya kepada-Nya. Melalui SEP inilah, Ia memberikan kesempatan kepada saya membagikan kasih dan kuasa-Nya yang amat luar biasa kepada banyak orang.

Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau telah memberi kesempatan kepada saya sekeluarga untuk mengikuti-Mu, berelasi, bersandar sepenuhnya kepada-Mu, mengalami kasih dan kuasa-Mu yang mengubah diri saya dan membagikannya kepada banyak orang, terlebih kepada mereka yang terdekat dengan kehidupan saya, agar mereka pun dapat mengalami perjumpaan dan berelasi dengan Engkau sendiri. Sungguh Engkau adalah Allah yang penuh kasih dan kuasa, heran dan besar, Allah yang sangat peduli dengan kehidupan kami semua, Allah yang tak pernah meninggalkan kami sendirian. Amin.

Tuhan memberkati.

Set