Hidupku Persembahanku

Renungan Minggu 2 Februari 2020, Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

Bacaan: Mal. 3:1-4; Mzm. 24:7,8,9,10; Ibr. 2:14-18; Luk 2:22-40 atau Luk. 2:22-32

Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” (Lukas 2:22-23)

Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa, Maria dan Yusuf membawa anak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” (Luk 2:22-23).

Mempersembahkan sesuatu berarti memberikan dengan penuh hormat sekaligus rendah hati dan tulus dari apa yang dimilikinya kepada pihak lain yang memiliki kedudukan lebih tinggi dan mulia. Hari ini ibu Maria dan bapa Yusuf mempersembahkan kanak-kanak Yesus di Bait Allah. Ketaatan mereka kepada hukum Tuhan sungguh patut diteladani. Meskipun malaikat telah memberitahukan bahwa Anak itu adalah yang kudus dari Allah tetapi mereka tidak berpangku tangan dan membiarkannya seolah semua akan dikerjakan dan dimudahkan dengan sendirinya oleh Tuhan. Sebagai keluarga yang dipercaya dititipi Kanak-Kanak Yesus, mereka dengan sepenuh hati mengasuh, mendidik dan membesarkan-Nya seturut dengan hukum agama Yahudi. Allah tidak bekerja sendiri, Ia membutuhkan kerja sama dengan manusia untuk melimpahkan rahmat kasih-Nya.

Tindakan mempersembahkan Kanak-Kanak Yesus kepada Tuhan merupakan perwujudan dari sikap hati yang taat, rendah hati dan pasrah. Ibu Maria dan bapa Yusuf sadar bahwa Yesus bukan milik mereka tetapi milik Allah, maka sudah seharusnya dipersembahkan kembali kepada Allah. Buah dari sikap ini adalah jelas, ”Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya (Luk 2:40). Seluruh hidup-Nya dipersembahkan kepada Bapa dengan penuh ketaatan. Bahkan sampai menderita dan mati di kayu salib. Ibu Maria pun mendapat karunia berlimpah, dengan tabah, sabar dan taat menerima apa pun yang dikehendaki Bapa bagi Yesus anak-Nya. Hati ibu yang begitu pedih masih mampu mengikuti Putranya menderita memikul salib dan menatang-Nya ketika diturunkan. Hati siapa yang seperti itu kalau bukan hati yang dipenuhi rahmat ketaatan dan kepasrahan.

Pesta hari ini mengajak kita untuk meneladani keluarga kudus, dengan senantiasa mempersembahkan segenap hidup kita kepada Allah. Apa yang ada pada kita: diri, keluarga, harta kekayaan, waktu, tenaga, pikiran dan kebebasan adalah karunia dari Allah, sudah seharusnya kita persembahkan kembali kepada Allah.

Dengan mempersembahkan segenap hidup, kita diajak untuk semakin taat, rendah hati dan pasrah terhadap penyelenggaraan Ilahi. Persembahan itu kudus, maka kita juga harus berusaha hidup kudus. Semua milik kita adalah sarana untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Ini menuntut sikap yang semakin peka dan peduli terhadap penderitaan dan kebutuhan sesama. Peka dan peduli untuk terlibat aktif dalam karya pelayanan yang penuh kasih dan suka cita.

Tentu tidak mudah untuk melakukan semua itu. Kelekatan duniawi, ego dan kedagingan masih sering membelenggu diri. Sulit bukan berarti tidak bisa. Butuh perjuangan, kesabaran dan ketekunan. Tidak mengandalkan kekuatan diri, tetapi membuka hati lebar-lebar dan biarlah Roh Kudus yang berkarya dalam diri kita.

Biarlah Tuhan pakai diri kita, biarlah Tuhan gunakan segenap hidup kita untuk berkarya melayani sesama. Apabila seluruh hidup kita jadikan persembahan kepada Tuhan, tidak akan ada duka derita, yang ada hanyalah damai dan sukacita.

Doa: Ya Allah Bapa, segala puji dan syukur kami unjukkan ke hadirat-Mu, terutama atas sabda-Mu hari ini. Mohon kekuatan dan penyertaan agar kami mampu mempersembahkan segenap hidup dengan penuh kasih dan sukacita berkarya melayani sesama. Bapa, bersama Putra dan Roh Kudus kami muliakan sepanjang segala masa. Amin. (MYM)