Hidup Melalui Kematian

Renungan Kamis 27 Februari 2020

Bacaan: Ul. 30:15-20Mzm. 1:1-2,3,4,6Luk. 9:22-25

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? (Lukas 9:25)

Ayat ini mengingatkan saya bahwa di dalam kehidupan seringkali kita sangat ketakutan dengan kematian dan kecelakaan. Hampir tiap hari kita mendengar berita kematian, pembunuhan, kecelakaan, sakit penyakit yang menimpa masyarakat atau bahkan diri kita sendiri. Belum lagi ketakutan-ketakutan, bila kita ditolak dari keluarga, kelompok atau lingkungan kita.

Lalu bagaimana kita ingin mendapatkan hidup bahagia, damai sejahtera dan suka cita dengan segala upaya dan bagaimana kita dapat terlepas dari rasa takut, cemas dan selalu khawatir dengan kondisi yang dapat terjadi setiap saat. Ternyata kelemahan dan dosa manusialah yang menjadi penyebab ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran akan kematian.

Banyak dari kita yang mengalami keterikatan atau kelekatan akan hal-hal yang telah menyatu dalam kehidupan kita. Misalnya kelekatan barang; kebiasaan; keluarga dan kesukaan kita. Harga diri kita;  jabatan; penghargaan; prestasi dan kemampuan kita. Kita takut/khawatir kehilangan semua itu  membuat kita sering stres – takut dan timbulnya rasa tidak nyaman dan lama-lama menjadi ketakutan. Terlebih kita sangat ketakutan kehilangan nyawa kita.

Dalam Lukas 9:22 Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.

Sebagai murid Yesus, bagaimana kita mengaplikasikan ayat ini di dalam kita sebagai manusia yang  lemah? Memang hal ini tidak mungkin, tetapi kita sebagai murid Kristus yang menerima kehidupan yang  baru, kita akan dididik untuk mengikuti jalan-Nya bersama Roh Kudus yang diberikan kepada kita untuk kita mampu berjalan dalam proses sebagai warga kerajaan Allah menuju kebenaran di dalam kerajaan-Nya.

Dan dalam Lukas 9:23 Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”

Dalam proses kehidupan saya bersama Yesus dalam Roh Kudus, saya menerima pengajaran; dan pendidikan secara bertahap, dan “mematikan” satu persatu – semua kelekatan/keterikatan, kedagingan atau sering dikatakan belenggu/membelenggu saya.

Mulai dari hal yang terkecil dalam diri saya sendiri; saya berusaha dan suka dihargai, dengan berbuat sebaiknya, melakukan kebaikan-kebaikan untuk keluarga atau orang lain senang dan menghargai saya (itu ternyata bayaran – imbal balik yang saya harapkan). (Apakah saya memang benar-benar baik atau ingin dianggap baik?)

Saya harus berani melepas keinginan selalu dianggap baik. Saya harus mau melepas harga diri atas jabatan saya baik dalam organisasi; maupun dalam pekerjaan. Saya merasa memiliki kemampuan lebih dan dapat memberikan/membagikan lebih dari orang lain, baik secara pengetahuan, serta dalam pekerjaan dengan suatu keberhasilan, dan amal/sosial yang melibatkan suatu projek kemanusiaan. Saya merasa menyukai, dan terlebih saya dapat pujian langsung ataupun tidak langsung, hal yang sangat menyenangkan bagi saya.

Ternyata itu satu keterikatan yang harus saya buang dan matikan dalam diri kehidupan saya. Bagaimana saya harus mematikan dan mengubur segala yang saya banggakan; saya harus belajar mematikan kesombongan yang ada dalam diri saya, dengan berani ditolak, dan tidak diperlukan lagi.

Tuhan terus menempa dan membentuk saya memahami arti kematian sebenarnya, dan arti bersuka citalah dalam segala hal ketika kita masih di dalam kehidupan ini. Ketika saya mengalami sakit lupus kurang lebih 18 tahun yang lalu, selama tiga tahun lebih saya menderita sakit yang biasanya sulit atau jarang yang bisa sembuh. Saat itu saya telah mulai bersekutu dengan teman persekutuan dan teman-teman di Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP). Pada waktu sakit, saya baru menyadari bagaimana dari rasa khawatir saya atas penyakit saya yang langka ini menjadi bagaimana tidak ada kekhawatiran sama sekali dan takut pada waktu menjalaninya.

Saya menjalani dengan baik saja, bahkan saya suka membaca firman dan mendengarkan puji-pujian sambil memuji-muji Tuhan di rumah sakit. Mungkin saya tidak seperti orang sakit, meskipun saya masih belum boleh berjalan dan keadaan masih sangat buruk. Peristiwa sakit saya ini sebagai awal penyadaran bahwa Roh Kudus yang hidup dalam diri saya ternyata hidup dan dapat membakar jiwa saya. Firman yang saya baca pun hidup, Tuhan pun hidup – saya selalu mengucapkan, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku!” Hanya kedekatan dengan Tuhan, Daud mampu menguasai dirinya juga di dalam saat yang sangat buruk. Karena besar kasih Allah pada saya, untuk menyiapkan saya dituntun untuk makin percaya dan mengimani, melakukan yang benar dengan pengalaman menjalankan di dalam kehidupan saya dengan berbagai masalah.

Kita perlu memohon ampun dan mengampuni serta memberi suatu kekuatan baru untuk menguasai jiwa kita dengan pikiran dan hati yang bersih dipimpin oleh Roh Kudus. Maka tubuh kita akan mengikuti apa yang ada di dalam hidup pembaruan yang terjadi dalam pikiran dan jiwa kita yang baru bersama Roh Kudus yang hidup di dalam roh kita.

Ternyata Roh Kudus yang ada di dalam hidup kita selalu menolong dan membawa diri kita di dalam suatu kondisi kita saat itu. Dengan api rahmat cintanya dapat membuang rasa takut, cemas, khawatir dan menggantikan dengan sukacita.

Apakah kita sebagai murid-murid Yesus harus takut dan khawatir setiap hari melihat kondisi dunia sekarang ini?

Suka cita kerajaan Allah boleh terjadi di bumi bila kita hidup baru bersatu dan bersekutu di dalam Dia, sehingga kita mampu untuk belajar mematikan kedagingan kita, dan masuk di dalam kerajaan Allah yang selalu mau dituntun dengan firman-Nya yang hidup di dalam berbagai kehidupan kita. Amin. (WYN)