Bukan Yang Masuk, Tetapi Yang Keluar

Renungan Rabu 12 Februari 2020

Bacaan: 1Raj. 10:1-10Mzm. 37:5-6,30-31,39-40Mrk. 7:14-23

Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. (Markus 7:15)

Di negara kita, makanan bukan hanya dikaitkan dengan kesehatan, melainkan juga dengan persembahan, sembahyangan bahkan yang berbau mistis.

Saya berasal dari Manado yang hampir semua binatang rasanya bisa dimakan. Memakan makanan yang tidak umum misalnya kucing, tikus, ular, kelelawar, dll. di Manado adalah sesuatu yang biasa. Bahkan ada salah satu pasar tradisional di Tomohon yang menjual bermacam-macam hewan ekstrem untuk dimakan.

Di bacaan Injil kemarin (Markus 7:1-13) orang Farisi dan ahli Taurat mengkritik Yesus karena para murid-Nya makan dengan tangan yang belum dibasuh sehingga makanan mereka pun menjadi najis. Ternyata permasalahannya lebih parah daripada hanya sekedar makanan semata, hati manusia sudah jauh lebih tercemar dan menjadi najis.

Ketika saya pindah ke Surabaya bertemu dengan teman-teman yang berbeda adat-istiadat, tradisi, bahasa, memakan makanan ekstrem ini menjadi perdebatan. Sering saya kurang bijak dalam menanggapi hal ini, sudah berpikir negatif duluan untuk teman-teman yang tidak sepaham sehingga jawaban yang keluar sering menyakitkan hati. Padahal kalau saya bisa menjaga hati dari pikiran negatif, saya bisa menjawab atau menyikapi masalah ini dengan lebih bijak sehingga tidak sampai menyakiti hati.

Orang lain bisa mencela, bisa mempermasalahkan adat-istiadat yang berbeda tapi keputusan tetap ada di saya untuk menyikapi itu dengan baik tanpa terpancing menjadi negatif.

Tuhan Yesus tidak mempermasalahkan apa yang masuk melainkan apa yang keluar, karena dari dalam perbendaharaan hati yang baik akan mengeluarkan segala kata-kata yang baik dan perbuatan baik. 

Doa: Terima kasih Tuhan Yesus yang telah menguduskan kami dengan darah-Mu yang tercurah di kayu salib. Ajari kami untuk menjaga hati sebagai bentuk tanggung jawab atas pengudusan yang telah Engkau anugerahkan. Allah Roh Kudus tuntun kami agar selalu waspada akan tumbuhnya tiga belas benih kejahatan (Mrk. 7:21-22) di dalam hati ini yang dapat berbuah menjadi tindakan negatif. Jadikan hati ini rumah-Mu sehingga hidup kami dapat menjadi saluran arus rahmat-Mu bagi sesama. Amin. (MEN)