Bukan Adat Istiadat

Renungan Selasa 11 Februari 2020

Bacaan: 1Raj. 8:22-23,27-30Mzm. 84:3,4,5,10,11Mrk. 7:1-13

Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia. (Markus 7:8)

Belum lama ini saya bertemu dengan seorang anak muda yang sedang galau tentang imannya. Dia bertanya kepada saya gereja mana yang paling benar, kenapa saya memutuskan mengikuti gereja Katolik. Menurut hasil pengamatannya selama ini setiap gereja tidak ada yang benar, selalu ada saja kekurangannya. Syukurlah saya sudah belajar di Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP), mengerti tentang tahap-tahap perkembangan iman, sehingga kami tidak perlu berdebat kusir. Saya hanya tanyakan kepadanya sesungguhnya Tuhan ada di mana, di dalam sebuah Gereja atau hidup di dalam hati manusia. Kalau Tuhan sudah hidup di dalam hatimu, maka kamu tidak akan bingung memilih gereja, karena nanti Dia sendiri yang akan menuntunmu di gereja mana kamu bisa bertumbuh. Anak muda ini pun terdiam, akhirnya ia berkata, “Benar, saya kesulitan memilih gereja karena selama ini saya telah membangun tembok di sekeliling hati saya.”

Demikianlah sering terjadi, Tuhan terasa begitu sulit dan jauh untuk dijangkau, karena berbagai ritual keagamaan dijalankan hanya sebatas kewajiban. Keinginan berjumpa dengan Tuhan sering terhambat karena tata kehidupan jasmani. Kitab suci dipelajari hanya sebatas untuk pengetahuan dan untuk adu kehebatan. Perintah Tuhan yang paling utama yaitu kasih tidak melandasi segala perbuatan, justru bangga kalau bisa menghakimi dan menjatuhkan keyakinan orang lain.

Semoga melalui firman-Nya hari ini, kita semakin menyadari agar semua perkataan dan perbuatan masing-masing hendaknya didasarkan pada kasih yang sesungguhnya, karena segalanya akan sia-sia jika tanpa kasih. 

Doa: Tuhan Yesus ajari kami selalu untuk lebih mengutamakan Engkau dan tidak terbelenggu oleh aturan-aturan dunia yang mengikat dan tanpa dasar kasih. Semoga hari ini kami dimampukan untuk selalu mengerti kehendak-Mu saja, sebab Engkaulah Tuhan dan Juru Selamat kami untuk selama-lamanya. Amin. (VLD)