Berani Berbeda

Renungan Jumat 7 Februari 2020 

Bacaan: Sir. 47:2-11Mzm. 18:31,47,50,51Mrk. 6:14-29

Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. (Markus 6:26)

Raja Herodes sebenarnya adalah seorang raja yang baik. Ia senang mendengarkan Yohanes dan segan padanya. Ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci. Ia melindunginya (Mrk. 6:20). Ajaran Yohanes membuat Herodes menjadi terombang-ambing. Seakan-akan ia berada dalam persimpangan jalan untuk mengikuti ajaran Yohanes atau tidak. Mau meninggalkan segala kenyamanan atau tidak. Dengan kata lain mau bertobat atau tidak.

Suatu ketika Herodes jatuh dalam dosa karena ia mengambil istri Herodias, istri saudaranya. Yohanes pun menegur Herodes, dan teguran ini membuat Herodias menaruh dendam. Sampai ada kesempatan untuk membunuhnya karena Herodes bersumpah akan memberikan apa saja yang diminta gadis anak perempuan Herodias. Herodes kembali di persimpangan jalan. Mengikuti dorongan hati untuk melindungi Yohanes atau mengutamakan harga dirinya sebagai raja. Masing-masing pilihan ada konsekuensinya. Menjadi cemoohan karena mengikuti dorongan hati atau menjadi tokoh yang populer, yang menyenangkan kebanyakan orang. Semuanya pilihan.

Kita seringkali dihadapkan situasi yang serupa. Kita dihadapkan berbagai pilihan. Semua pilihan tampak cemerlang, namun kita sendiri yang wajib menyaringnya. Apakah pilihan itu sesuai dengan firman Tuhan? Apakah sesuai dengan kehendak Allah? Roh Kudus yang bersemayam di dalam hati kita selalu mengingatkan kita. Yang kita butuhkan hanya mendengarnya dan berani berbeda dengan pilihan orang lain. Semuanya adalah pilihan, mana yang kita pilih? Apakah kita berani menolak segala hal yang bertentangan dengan hati nurani kita? Apakah kita berani tidak populer karena pilihan hidup kita? Apakah kita yang memenangkan pergumulan kita? Jangan biarkan si jahat yang menang.

Mari kita berani berbalik menuju kepada Allah. Setiap kali kita terjatuh, kita belajar dari kesalahan dan berbalik kembali pada Tuhan Yesus. Mengakui semua kesalahan kita. Bertobat seperti Daud, “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!” (Mazmur 51:3-4) Tidak ada kata terlambat.

Doa: Tuhan Yesus terima kasih, bantulah dan kuatkanlah daku untuk memenangkan semua pergumulanku, untuk berpikir, berkata, berbuat dan melangkah hanya sesuai firman-Mu. Amin. (IDJ)