Panggilan Kepada Pertobatan

Renungan Minggu 26 Januari 2020, Hari Minggu Biasa III

Bacaan: Yes. 8:23b – 9:3Mzm. 27:1,4,13-141Kor. 1:10-13,17Mat. 4:12-23 atau Mat. 4:12-17

PANGGILAN KEPADA PERTOBATAN
(Sumber : Refleksi persiapan kelahiran Charis; Pantekosta 2019, oleh Pater Raniero Cantalamessa, OFM Cap)

“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk. 1:15)

Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat. 4:17)

Sebelum zaman Yesus, pertobatan selalu berarti ‘berbalik’ (kata Ibrani shub berarti ‘berbalik arah, menelusuri kembali langkah yang telah diambil’). Kata ini menunjukkan tindakan seseorang yang pada suatu titik dalam hidupnya, menyadari bahwa dia sudah ‘keluar jalur’.

Kemudian dia berhenti, berpikir ulang, dan memutuskan untuk kembali menaati hukum Taurat dan memasuki kembali perjanjian dengan Allah. Benar-benar ‘berbalik arah’. Dalam hal ini, pertobatan memiliki arti moral yang mendasar dan menyiratkan sesuatu yang sulit dicapai, yaitu mengubah kebiasaan. Inilah arti pertobatan yang biasa diwartakan oleh para nabi sebelum dan sampai Yohanes Pembaptis.

Namun saat diucapkan oleh Yesus, kata ini berubah arti. Bukan karena Yesus senang mengubah arti kata-kata, tetapi karena Yesus telah mengubah segala sesuatu dengan kedatangan-Nya.

‘Waktunya telah genap dan Kerajaan Allah sudah dekat!’

“Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

Pertobatan bukan berarti kembali kepada perjanjian lama dan menaati hukum Taurat, tetapi pertobatan berarti melakukan suatu lompatan ke depan dan memasuki Kerajaan Allah, meraih keselamatan yang telah diberikan kepada umat manusia secara gratis, melalui inisiatif Allah yang bebas dan berdaulat.

Pertobatan dan keselamatan bertukar tempat. Dahulu, manusia harus bertobat sebelum menerima keselamatan sebagai imbalannya. Akan tetapi sekarang sebaliknya, keselamatan datang terlebih dahulu lalu kemudian manusia harus bertobat sebagai syarat untuk menerima keselamatan tersebut.

Bukan: bertobatlah maka Kerajaan Allah dan Mesias akan datang, sebagaimana dikatakan para nabi terakhir, tetapi: bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah datang dan sudah ada di antaramu.

Bertobat artinya mengambil keputusan yang menyelamatkan, ‘keputusan terpenting’, sebagaimana diceritakan dalam perumpamaan mengenai Kerajaan Allah.

‘Bertobatlah dan percayalah’ bukan berarti dua hal yang berbeda dan berurutan, tetapi mengacu kepada satu tindakan mendasar yang sama: pertobatan, yang adalah percaya! Kita bertobat dengan cara percaya!

Semua ini memerlukan suatu ‘pertobatan’ sejati, suatu perubahan mendasar dalam cara kita berelasi dengan Allah. Cara kita memandang Allah harus berubah: kalau dulu kita memandang Allah sebagai sosok yang memerintah dan mengancam, sekarang kita memandang Allah yang datang dengan tangan terbuka untuk memberi kita segala-galanya. Perubahan dari ‘hukum’ menjadi ‘kasih karunia’ sebagaimana selalu dikatakan oleh Rasul Paulus. 

Tuhan memberkati. (ET)